Wisata Budaya Jakarta yang Wajib di datangi

Berwisata di Jakarta pastinya sangat akrab denganmu. Namun apa sih yang kamu lihat di Jakarta? Dufan? mall mall besarnya? atau cafe cafe hits nya? kalau iya, kamu berarti anak-anak yang mulai di pertanyakan lagi nilai budaya nya. Nah, sebagai insan muda yang intelektual, kamu tentu tidak mau di sebut anak muda yang kosong akan budaya kan? maka dari itu, coba yuk, berkunjung ke 5 destinasi wisata budaya yang sudah saya rangkum dari berbagai sumber ini. Happy reading!


1. Setu Babakan




Setu Babakan atau Danau Babakan terletak di Srengseng Sawah, kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan, yang berfungsi sebagai pusat Perkampungan Budaya Betawi, suatu area yang dijaga untuk menjaga warisan budaya Jakarta, yaitu budaya asli Betawi. Situ atau setu Babakan merupakan danau buatan dengan area 32 hektar (79 akre) dimana airnya berasal dari Sungai Ciliwung dan saat ini digunakan untuk memancing bagi warga sekitarnya


Setu Babakan merupakan sebuah kawasan yang ditetapkan Pemerintah Jakarta sebagai tempat pelestarian dan pengembangan budaya Betawi secara berkesinambungan. Perkampungan yang terletak di selatan Kota Jakarta ini merupakan salah satu objek wisata yang menarik bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana khas pedesaan atau menyaksikan budaya Betawi asli secara langsung. Di perkampungan ini, masyarakat Setu Babakan masih mempertahankan budaya dan cara hidup khas Betawi, memancing, bercocok tanam, berdagang, membuat kerajinan tangan, dan membuat makanan khas Betawi. Melalui cara hidup inilah, mereka aktif menjaga lingkungan dan meningkatkan taraf hidupnya.




Setu Babakan adalah kawasan hunian yang memiliki nuansa yang masih kuat dan murni baik dari sisi budaya, seni pertunjukan, jajanan, busana,, rutinitas keagamaan, maupun bentuk rumah Betawi. Dari perkampungan yang luasnya 289 Hektar, 65 hektar di antaranya adalah milik pemerintah di mana yang baru dikelola hanya 32 hektar. Perkampungan ini didiami setidaknya 3.000 kepala keluarga. Sebagian besar penduduknya adalah orang asli Betawi yang sudah turun temurun tinggal di daerah tersebut. Sedangkan sebagian kecil lainnya adalah para pendatang, seperti pendatang dari Jawa Barat, jawa tengah, Kalimantan, dll yang sudah tinggal lebih dari 30 tahun di daerah ini.


Setu Babakan, sebagai sebuah kawasan Cagar Budaya Betawi, sebenarnya merupakan objek wisata yang terbilang baru. Peresmiannya sebagai kawasan cagar budaya dilakukan pada tahun 2004, yakni bersamaan dengan peringatan HUT DKI Jakarta ke-474. Perkampungan ini dianggap masih mempertahankan dan melestarikan budaya khas Betawi, seperti bangunan, dialek bahasa, seni tari, seni musik, dan seni drama.



Dalam sejarahnya, penetapan Setu Babakan sebagai kawasan Cagar Budaya Betawi sebenarnya sudah direncanakan sejak tahun 1996. Sebelum itu, Pemerintah DKI Jakarta juga pernah berencana menetapkan kawasan Condet, Jakarta Timur, sebagai kawasan Cagar Budaya Betawi, namun urung (batal) dilakukan karena seiring perjalanan waktu perkampungan tersebut semakin luntur dari nuansa budaya Betawi-nya. Dari pengalaman ini, Pemerintah DKI Jakarta kemudian merencanakan kawasan baru sebagai pengganti kawasan yang sudah direncanakan tersebut. Melalui SK Gubernur No. 9 tahun 2000 dipilihlah perkampungan Setu Babakan sebagai kawasan Cagar Budaya Betawi. Sejak tahun penetapan ini, pemerintah dan masyarakat mulai berusaha merintis dan mengembangkan perkampungan tersebut sebagai kawasan cagar budaya yang layak didatangi oleh para wisatawan. Setelah persiapan dirasa cukup, pada tahun 2004, Setu Babakan diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso, sebagai kawasan Cagar Budaya Betawi. Sebelum itu, perkampungan Setu Babakan juga merupakan salah satu objek yang dipilih Pacifik Asia Travel Association(PATA) sebagai tempat kunjungan wisata bagi peserta konferensi PATA di Jakarta pada bulan Oktober 2002.

B. Keistimewaan

Perkampungan Setu Babakan adalah sebuah kawasan pedesaan yang lingkungan alam dan budayanya yang masih terjaga secara baik. Wisatawan yang berkunjung ke kawasan cagar budaya ini akan disuguhi panorama pepohonan rindang yang akan menambah suasana sejuk dan tenang ketika memasukinya. Di kanan kiri jalan utama, pengunjung juga dapat melihat rumah-rumah panggung berarsitektur khas Betawi yang masih dipertahankan keasliannya.

Yang tak kalah menarik, di perkampungan ini juga banyak terdapat warung yang banyak menjajakan makanan-makanan khas Betawi, seperti ketoprak, ketupat nyiksa, kerak telor, ketupat sayur, bakso, laksa, arum manis, soto betawi, mie ayam, soto mie, roti buaya, bir pletok, nasi uduk, kue apem, toge goreng, dan tahu gejrot.

Wisatawan yang berkunjung ke Setu Babakan juga dapat menyaksikan pagelaran seni budaya Betawi, antara lain tari cokek, tari topeng, kasidah, marawis, seni gambus, lenong, tanjidor, gambang kromong, dan ondel-ondel yang sering dipentaskan di sebuah panggung terbuka berukuran 60 meter persegi setiap hari Sabtu dan Minggu. Selain pagelaran seni, pengunjung juga dapat menyaksikan prosesi-prosesi budaya Betawi, seperti upacara pernikahan, sunat, akikah, khatam Al-Qur‘an, dan nujuh bulan, atau juga sekedar melihat para pemuda dan anak-anak latihan menari dan silat khas Betawi, Beksi.

Sebagai sebuah kawasan cagar budaya, Setu Babakan tidak hanya menyajikan pagelaran seni maupun budaya, melainkan juga menawarkan jenis wisata alam yang tak kalah menarik, yakni wisata danau. Dua danau, yakni Mangga Bolong dan Babakan, di perkampungan ini biasanya dimanfaatkan oleh wisatawan untuk memancing atau sekedar bersenda gurau dan menikmati suasana sejuk di pinggir danau. Selain itu, wisatawan juga dapat menyewa perahu untuk menyusuri dan mengelilingi danau.

Wisatawan yang berkunjung ke perkampungan ini juga dapat berkeliling ke perkebunan, pertanian, serta melihat tanaman-tanaman khas Betawi di pelataran rumah-rumah penduduk. Apabila berkunjung ke pelataran rumah penduduk, tak jarang pengunjung akan dipetikkan buah sebagai tanda penghormatan. Jika wisatawan tertarik untuk memetik dan berniat membawa pulang buah-buahan tersebut, maka pengunjung dapat membelinya dengan terlebih dulu bernegosiasi harga dengan pemiliknya. Buah-buahan yang tersedia di perkampungan ini antara lain belimbing, rambutan, buni, jambu, dukuh, menteng, gandaria, mengkudu, nam-nam, kecapi, durian, jengkol, kemuning, krendang, dan masih banyak lagi.

Yang baru dari Setu Babakan adalah telah dibangunnya dua jembatan gantung, sehingga pengunjung dapat menyinggahi pulau buatan di tengah Setu Babakan. Selain itu Setu babakan adalah salah satu tempat favorit bersepeda santai di Jakarta Selatan.


C. Lokasi

Perkampungan Setu Babakan berlokasi di Kelurahan Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan, Propinsi DKI Jakarta, Indonesia. Pintu masuk utama adalah Pintu Si Pitung yang terletak di Jalan RM. Kahfi II.





D. Akses

Akses menuju lokasi perkampungan Setu Babakan relatif mudah, karena terdapat banyak kendaraan umum yang melewati perkampungan ini. Dari Terminal Pasar Minggu, pengunjung dapat menggunakan Kopaja No. 616 jurusan Blok M menuju Cimpedak. Setelah sekitar 30 menit dan, pengunjung dapat turun di depan pintu gerbang perkampungan Setu Babakan. Selain itu, bagi wisatawan yang berangkat dari Terminal Depok dapat menggunakan taksi menuju perkampungan Setu Babakan.

Alternatif lainnya, pengunjung yang berangkat dari Terminal Depok dapat juga menggunakan Metromini 616 jurusan Blok M—Pasar Minggu—Cimpedak atau menggunakan angkutan umum bernomor 128, kemudian turun di depan pintu gerbang perkampungan Setu Babakan. Apabila menggunakan kendaraan pribadi, pengunjung diminta memarkir kendaraannya di tempat yang telah disediakan, kemudian dipersilakan mengunjungi perkampungan dengan berjalan kaki atau bersepeda mengelilingi Setu Babakan.

E. Harga Tiket

Wisatawan yang berkunjung ke perkampungan ini tidak dipungut biaya, namun hanya dikenai biaya parkir kendaraan yang berkisar antara Rp 2.000 hingga Rp 5.000. Untuk wisatawan yang bersepeda di areal Setu Babakan tidak dipungut biaya masuk alias gratis. Wisatawan yang berkunjung ke sini diperbolehkan menikmati suasana perkampungan dari pukul 06.00 hingga pukul 18.00 WIB.


F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Sebagai sebuah kawasan cagar budaya, Perkampungan Setu Babakan hingga saat ini telah dilengkapi fasilitas-fasilitas umum, seperti tempat ibadah, panggung pertunjukan seni, tempat bermain anak-anak, teater terbuka, wisma, kantor pengelola, galeri, dan pertokoan suvenir. Dengan fasilitas ini pengunjung dapat berfoto menggunakan busana adat khas Betawi dengan lokasi pemotretan yang disesuaikan dengan keinginan pengunjung. Hal yang tak kalah menarik adalah saat ini (mulai Maret 2011) telah terbentuk suatu komunitas sepeda onthel di Setu Babakan dengan nama OSEBA (onthel Setoe Babakan). Komunitas ini biasa kumpul saban Minggu pagi di depan halaman panggung utama.



2. Rumah Adat Taman Mini




Taman Mini adalah salah satu destinasi wisata yang ada di Jakarta Timur, tepatnya di Pinang Ranti. Salah satu yang di sajikan dari atraksi atau objek di Taman Mini adalah rumah adat Indonesia dari sabang sampe merauke. Total rumah adat yang ada di taman mini adalah 25 rumah adat dari seluruh Indonesia. TMII mulai dibangun tahun 1972 dan diresmikan pada tanggal 20 April 1975. Berbagai aspek kekayaan

alam dan budaya Indonesia sampai pemanfaatan teknologi modern diperagakan di areal seluas 150 hektare. Di TMII, gambaran tersebut diwujudkan melalui Anjungan Daerah, yang mewakili suku-suku bangsa yang berada di 33 Provinsi Indonesia. Anjungan provinsi ini dibangun di sekitar danau dengan miniatur Kepulauan Indonesia, secara tematik dibagi atas enam zona; Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali dan Nusa Tenggara, Maluku dan Papua. Tiap anjungan menampilkan bangunan khas setempat. Anjungan ini juga menampilkan baju dan pakaian adat, busana pernikahan, baju tari, serta artefak etnografi seperti senjata khas dan perabot sehari-hari, model bangunan, dan kerajinan tangan. Semuanya ini dimaksudkan untuk memberi informasi lengkap mengenai cara hidup tradisional berbagai suku bangsa di Indonesia. Setiap anjungan provinsi juga dilengkapi panggung, amfiteater atau auditorium untuk menampilkan berbagai tarian tradisional, pertunjukan musik daerah, dan berbagai upacara adat yang biasanya digelar pada hari Minggu. beberapa anjungan juga dilengkapi kafetaria atau warung kecil yang menyajikan berbagai Masakan Indonesia khas provinsi tersebut, serta dilengkapi toko cenderamata yang menjual berbagai kerajinan tangan, kaus, dan berbagai cenderamata. Karena kini Indonesia terdiri atas 33 provinsi, anjungan-anjungan provinsi baru seperti Bangka Belitung, Banten, Sulawesi Barat, Maluku Utara, Gorontalo, Kepulauan Riau, dan Papua Barat telah dibangun di sudut Timur Laut TMII, walaupun ukuran dan luas anjungan provinsi baru ini jauh lebih kecil dari anjungan provinsi yang telah dibangun sebelumnya.






Anjungan anjungan yang terdapat di TMII adalah Anjungan Aceh , Anjungan Sumatera Utara,Anjungan Sumatera Barat, Anjungan Riau, Anjungan Kepulauan Riau, Anjungan Jambi, Anjungan Bangka Belitung, Anjungan Bengkulu, Anjungan Sumatera Selatan,Anjungan Lampung, Anjungan Banten , Anjungan DKI Jakarta, Anjungan Jawa Barat ,Anjungan Jawa Tengah,,Anjungan DI Yogyakarta,,Anjungan Jawa Timur, Anjungan Bali , Anjungan Nusa Tenggara Barat , Anjungan Nusa Tenggara Timur, Anjungan Kalimantan Barat , Anjungan Kalimantan Tengah, Anjungan Kalimantan Selatan , Anjungan Kalimantan Timur , Anjungan Sulawesi Utara, Anjungan Gorontalo, Anjungan Sulawesi Tengah, Anjungan Sulawesi Barat , Anjungan Sulawesi Selatan, Anjungan Sulawesi Tenggara, Anjungan Maluku Utara , Anjungan Maluku , Anjungan Papua Barat, dan, Anjungan Papua.




Untuk mencapai TMII kita bisa menaiki busway hingga halte atau terminal pinang ranti, atau menaiki bus keliling Jakarta, atau dapat juga dengan angkot T15A yang melewati depan Taman Mini persis. Harga tiket pun kini sudah jauh lebih murah dan sangat sesuai kantong.




3. Rumah Kebaya




Rumah Kebaya atau Bapang merupakan rumah adat betawi dengan bentuk atap perisai landai yang diteruskan dengan atap pelana yang lebih landai, terutama pada bagian teras. Bangunannya ada yang berbentuk rumah panggung dan ada pula yang menapak di atas tanah dengan lantai yang ditinggikan. Masyarakat betawi lama memiliki adat untuk membuat sumur di halaman depan rumah dan mengebumikan keluarga yang meninggal di halaman samping kanan rumah.

Lisplank rumah kebaya berupa papan yang diukir dengan ornamen segitiga berjajar yang diberi nama ’gigi balang’. Di bagian tengah sebagai ruang tinggal dibatasi dinding tertutup, di luarnya merupakan terasi-teras terbuka yang dikelilingi pagar karawang rendah. Dinding bagian depan biasanya dibuat dari panil-panil yang dapat dilepas saat pemilik rumah menyelenggarakan acara yang membutuhkan ruang lebih luas. Tiang-tiang rumah lebih tampak jelas di bagian teras, berdiri di atas lantai yang agak naik dari ketinggian tanah di halaman. Terdapat tangga pendek dari batu-bata atau kayu untuk mencapai teras rumah.

Ruang-ruang terbagi dengan hirarki dari sifat publik di bagian depan menuju sifat privat dan service di bagian belakang. Beranda depan adalah tempat untuk menerima tamu dan bersantai bagi keluarga yang diberi nama ‘amben’. Lantai teras depan yang bernama ‘gejogan’ selalu dibersihkan dan siap digunakan untuk menerima dan menghormati tamu. Gejogan dihubungkan tangga yang disakralkan oleh masyarakat betawi dengan nama ’balaksuji’, sebagai satu-satunya lokasi penting untuk mencapai rumah. Ruang berikutnya adalah kamar tamu yang dinamakan ‘paseban’. Setelah ruang tamu terdapat ruang keluarga yang berhubungan dengan dinding-dinding kamar, ruang ini dinamakan ‘pangkeng’. Selanjutnya ruang-ruang berfungsi sebagai kamar-kamar tidur dan terakhir adalah dapur yang diberi nama ‘srondoyan’

Rumah Tradisional Betawi sangat sulit diketemukan, bukan hanya di seluruh kawasan Betawi tetapi juga didaerah yang dikatakan sebagai cagar budaya Betawi sendiri seperti Condet. Dewasa ini orang mulai menengok kembali Rumah Tradisional Betawi karena menghawatirkan akan keberadaan rumah ini sehingga pemerintah juga membuat cagar budaya Betawi di tempat lain (di kawasan Bale Kambang), dan beberapa orang yang mencintai kebudayaan Betawi malah dengan, sengaja membuat rumah "Tradisional Betawi", yaitu rumah yang dibangun dengan menggunakan "pakem" Rumah Tradisional Betawi tetapi dengan memasukkan unsur modern ke dalamnya, seperti penggunaan material lantai modern (keramik) ataupun material dinding bata. Di daerah sekitar Parung diketemukan banyak Rumah dengan bentuk yang sangat mirip dengan Arsitektur Rumah Tradisional Betawi (baik dari tampilan, maupun dari material yang digunakan). Dengan melihat kondisi fisiknya, dapat diperkirakan bahwa rumah-rumah tadi dibangun tidak kurang dari lima puluh tahun yang lalu, bahkan masih menggunakan material bangunan yang sama dengan rumah Tradisional Betawi, namun dengan penghuni yang berbeda. Rumah-rumah ini dihuni oleh orang keturunan yang mewarisi rumahnya dari kakek buyutnya.

Berdasarkan bentuknya, rumah Betawi dapat dikelompokkan atas :


a. Rumah Gudang, berdenah empat persegi panjang, dapur hanya merupakan tambahan, beratap pelana memanjang dari depan kebelakang, sedangkan atap bagian dapur sering hanya berupa atap tambahan (atap meja), dengan bagian tertinggi menempel ke dinding ruang dalam, dan miring ke arah belakang


b. Rumah Joglo, denah berbentuk bujur sangkar, bentuk atap dipengaruhi oleh bentuk atap rumah Jawa, namun tidak seperti Joglo murni, karena pada rumah Betawi ditambah dengan tekukan (dalam bahasa Sunda dinamakan "sorondoy")


c. Rumah Bapang / Kebaya, denah berbentuk empat persegi panjang, atap rumah berbentuk pelana yang dilipat (memiliki dua sudut kemiringan)




4. Monumen Nasional





Monumen Nasional atau yang biasa di sebut Monas adalah salah satu landmark Indonesia yang terletak di pusat ibu kota Jakarta, Jakarta Pusat. Monas adalah menara setinggi 132 meter dengan puncak api emas yang menyala dengan gagahnya saat malam hari. Monas didirikan untuk mengenang perlawanan dan perjuangan rakyat Indonesia untuk merebut kemerdekaan dari pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Pembangunan monumen ini dimulai pada tanggal 17 Agustus 1961 di bawah perintah presiden Sukarno, dan dibuka untuk umum pada tanggal 12 Juli 1975. Tugu ini dimahkotai lidah api yang dilapisi lembaran emasyang melambangkan semangat perjuangan yang menyala-nyala. Monumen Nasional terletak tepat di tengah Lapangan Medan Merdeka, Jakarta Pusat. Monumen dan museum ini dibuka setiap hari mulai pukul 08.00 - 15.00 WIB. Pada hari Senin pekan terakhir setiap bulannya ditutup untuk umum.





Sejarah Monas

Setelah pusat pemerintahan Republik Indonesia kembali ke Jakarta setelah sebelumnya berkedudukan di Yogyakarta pada tahun 1950 menyusul pengakuan kedaulatan Republik Indonesia oleh pemerintah Belanda pada tahun 1949, Presiden Sukarno mulai merencanakan pembangunan sebuah monumen nasional yang setara dengan Menara Eiffel di lapangan tepat di depan Istana Merdeka. Pembangunan tugu Monas bertujuan mengenang dan melestarikan perjuangan bangsa Indonesia pada masa revolusi kemerdekaan 1945, agar terus membangkitkan inspirasi dan semangat patriotisme generasi penerus.

Pada tanggal 17 Agustus 1954 sebuah komite nasional dibentuk dan sayembara perancangan monumen nasional digelar pada tahun 1955. Terdapat 51 karya yang masuk, akan tetapi hanya satu karya yang dibuat oleh Frederich Silaban yang memenuhi kriteria yang ditentukan komite, antara lain menggambarkan karakter bangsa Indonesia dan dapat bertahan selama berabad-abad. Sayembara kedua digelar pada tahun 1960 tapi sekali lagi tak satupun dari 136 peserta yang memenuhi kriteria. Ketua juri kemudian meminta Silaban untuk menunjukkan rancangannya kepada Sukarno. Akan tetapi Sukarno kurang menyukai rancangan itu dan ia menginginkan monumen itu berbentuk lingga dan yoni. Silaban kemudian diminta merancang monumen dengan tema seperti itu, akan tetapi rancangan yang diajukan Silaban terlalu luar biasa sehingga biayanya sangat besar dan tidak mampu ditanggung oleh anggaran negara, terlebih kondisi ekonomi saat itu cukup buruk. Silaban menolak merancang bangunan yang lebih kecil, dan menyarankan pembangunan ditunda hingga ekonomi Indonesia membaik. Sukarno kemudian meminta arsitek R.M. Soedarsono untuk melanjutkan rancangan itu. Soedarsono memasukkan angka 17, 8 dan 45, melambangkan 17 Agustus 1945 memulai Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, ke dalam rancangan monumen itu. Tugu Peringatan Nasional ini kemudian dibangun di areal seluas 80 hektare. Tugu ini diarsiteki oleh Friedrich Silaban dan R. M. Soedarsono, mulai dibangun 17 Agustus 1961.


Ruang ruang di dalam Monas

Monas di bagi menjadi beberapa bagian yang dapat dikunjungi oleh wisatawan. Di bagian halaman depan monas terdapat tembok yang mengelilingi halaman monas dengan relief sejarah Indonesia. Lalu saat memasuki bagian bawah monas, kita memasuki museum sejarah nasional yang menceritakan masa masa penjajahan hingga proklamasi kemerdekaan. Terdapat teks asli dari tulisan tangan Ir.Soekarno saat menulis teks proklamasi pertama kali. Terdapat pula suara pembacaan teks proklamasi oleh Ir.Soekarno yang diputar didalam ruangan museum. Lalu ada juga ruang kemerdekaan, ruangan yang menyimpan berbagai macam atribut kemerdekaan dan berbagai macam perjanjian perjanjian yang dibuat dan juga dilaksanakan oleh Indonesia pada beberapa puluh tahun silam.



Dan sampailah di pelataran puncak Api setelah menaiki lift yang tersedia dari basement atau ground floor menara.Tempat tertinggi di ujung menara monas tepatnya dibawah api emas. Di pelataran ini kita dapat melihat seluruh isi kota Jakarta dengan teropong dari ketinggian 132 meter diatas daratan.


Tiket Masuk dan Transportasi




Banyak sekali akses yang dapat kita gunakan untuk mencapai Monas ini. Dengan kereta, kita bisa berhenti di stasiun gambir dan langsung berjalan kaki keluar karena letak gambir dan Monas hanya bersebelahan. Lalu dengan busway, kita cukup turun di halte busway yang terletak persis di sebelah barat monas. Kemudahan transportasi saat ini didukung dengan adanya berbagai macam transportasi online seperti Go-Jek, Grab, dan Uber.


5.Kota Tua Jakarta



(Museum fatahillah)

Ke Jakarta tidak akan lengkap tanpa mengunjungi kawasan yang satu ini. Kota Tua Jakarta adalah salah satu tempat wisata di Jakarta yang selalu ramai dikunjungi para wisatawan. Kota Jakarta dengan landmark Kota Tua adalah pesona wisata sejarah di Jakarta yang memberi banyak pengetahuan. Berbagai peninggalan masa lampau masih dapat Anda jumpai di kawasan yang selalu ramai saat akhir pekan ini. Juga, para pecinta fotografi akan selalu suka datang ke Kota Tua. Ada sejumlah landmark historis di kawasan Kota Tua ini, seperti Museum Fatahillah, Pelabuhan Sunda Kelapa, Museum Bank Indonesia, Museum Seni Rupa dan Keramik, dan Toko Merah. Tidak hanya tempat-tempat historis, Anda juga dapat menikmati pengalaman kuliner di Kota Tua Jakarta dengan singgah di Cafe Batavia atau Cafe Gazebo, serta aneka jajanan seperti gado-gado, soto, hingga kerak telor khas Jakarta.





Sejarah

Terbentuknya Kota Tua Jakarta diawali dengan munculnya sebuah kerajaan yang bernama Padjadjaran, jauh sebelum dikenal Sunda Kalapa. Nama Sunda Kalapa sendiri merupakan nama resmi tertua dari Kota Jakarta yang terdiri atas dua unsur yaitu “Sunda” dan “Kalapa”. Nama Sunda dalam Sunda Kalapa baru muncul pada abad ke 10, disebutkan didalam prasasti Kebon Kopi II yang berangka tahun 854 Saka (932 Masehi). Seiring dengan adanya kerjasama antara kerajaan Padjadjaran dan Portugis, terjadi perkembangan yang signifikan terhadap kekuasaan Portugis di Sunda Kalapa. Melihat perkembangan kekuasaan Portugis yang begitu pesat, Kerajaan Demak dibantu oleh kerajaan Cirebon melakukan penyerangan terhadap Sunda Kalapa dibawah pimpinan Pangeran Fatahilah pada tahun 1526-1527. Dalam serangan tersebut Portugis berhasil dikalahkan dan Sunda Kalapa berhasil direbut dari kekuasaan Portugis. Jatuhnya Sunda Kalapa ke tangan Pangeran Fatahilah menandai berubahnya nama Sunda Kalapa menjadi Jayakarta pada tahun 1527. Bangsa Eropa kedua yang berhasil singgah di Jayakarta adalah Belanda dibawah pimpinan Cornelis De Houtman dengan tujuan berdagang dan mencari rempah-rempah. Setelah kedatangan tim ekspedisi Belanda dibawah pimpinan De Houtman, semakin banyaklah orang Belanda yang datang dan singgah di Jayakarta untuk berdagang rempah-rempah. Perdagangan yang tidak teratur ini membuat Belanda kalah dengan Inggris yang telah pula berdagang di Jayakarta. Akhirnya, didirikanlah sebuah persekutuan dagang Belanda yang bernama Vereenigde Oostindische Compagnie atau yang biasa disingkat VOC pada tahun 1602. Setelah pemerintahan Belanda di Nusantara berada dalam pengawasan langsung Kerajaan Belanda, maka diangkat beberapa Gubernur Jenderal baru utnuk memerintah dan bertanggung jawab terhadap Hindia Belanda. Salah satu yang cukup terkenal adalah Daendels yang memerintah sejak tahun 1808, juga terkenal sebagai pemimpin yang keras dan disiplin.


Pemerintahan Belanda berakhir sepenuhnya di Nusantara setelah Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang melalui perundingan Linggarjati pada tahun 1942. Berakhirnya masa pemerintahan Belanda di Nusantara bukanlah akhir dari masa penderitaan dan penjajahan bangsa asing di Nusantara. Dengan ditandatanganinya perjanjian Linggarjati, kekuasaan atas Nusantara dilimpahkan dari pemerintah Belanda kepada pemerintah Jepang.


Keputusan Jepang untuk melibatkan diri dalam Perang Dunia II adalah hal yang fatal. Pada tahun 1945, Sekutu menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, dua kota penting milik Jepang. Peristiwa ini dipergunakan oleh pemuda Indonesia untuk mendesak angkatan tua untuk memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Semenjak kemerdekaan Indonesia di proklamirkan, Jakarta menjadi pusat pemerintahan dan Ibukota Indonesia. Jakarta pernah kehilangan perannya sebagai ibukota Negara saat situasi pra kemerdekaan tidak kondusif dan ibukota serta pusat pemerintahan terpaksa dipindahkan ke Jogjakarta. Namun pemindahan ibukota ini tidak permanen, sehingga setelah kondisi aman Ibukota dan Pusat pemerintahan Indonesia dikembalikan ke Jakarta hingga sekarang.

Atraksi



Selain mengunjungi berbagai macam museum dan peninggalan bersejarah Jakarta, Banyak sekali atraksi atau kegiatan yang berlangsung di tengah halaman kota tua Jakarta. Seperti sulap, pertunjukan tari tradisional Jakarta dan Betawi, panggung musik, hingga festival kuliner. Banyak pula ondel ondel khas betawi yang berjalan diiringi musik yang mengitari kota tua. Banyak juga seniman jalanan yang menawarkan berbagai macam kesenian yang menguatkan cirri khas Jakarta. Ada juga orang orangan atau Live Action yang bisa diajak berfoto yang biasanya harus membayar 5.000 hingga 10.000.


Jika mencari restoran fancy, kamu bisa memasuki café Batavia yang terdapat di tengah Kota Tua. Harga makanan di dalamnya berkisar antara 100k-300k per/porsi.


Tiket Masuk dan Akses Transportasi

Berikut ini adalah harga tiket masuk Kota Tua Jakarta secara paket atau harga untuk grup, dan harga ini dapat dipakai untuk mengunjungi seluruh museum dan atraksi tiap museum yang ada. Jika hanya ingin membeli tiket satuan tiap museum, akan dikenakan biaya sekitar 10k-15k.




Transportasi menuju Kota Tua sangatlah mudah dengan Busway (3.500) dari halte mana saja, bisa langsung turun di halte Kota Tua atau pemberhenian terakhir.




OPINI PENULIS:


Menjadi insan intelektual yang cerdas seharusya sudah tau harus berbuat apauntuk daerah asalnya. Tidak lengkap rasanya jika kita bertahun tahun menghuni Jakarta namun tidak pernah menyicipi beragam atraksi , tempat, dan makanan daerah asal yang banyak tersaji ini.


Menurut Saya, masih banyak sekali destinasi wisata budaya di Jakarta atau acara acara festival budaya ataupun kuliner yang wajib sekali si coba. jika bukan kita yang mencoba untuk melestarikan budaya yang ada saat ini, siapa yang akan meneruskannya? kitalah generasi penerus yang saat ini eharusnya sedang gencar gencarnya mempromosikan budaya budaya yang ada di daerah kita.


Jakarta memiliki banyak sekali destinasi wisata yang bagus, dan tertata. pemerintah sudah sangat bagus dalam menangani fasilitas maupun akses menuju ke destinasi wisata di Jakarta. namun memang masih perlu banyak perbaikan disana sini dalam hal kebersihan dan ketertiban pengunjung.





Sumber:


https://setubabakan.wordpress.com/about/


http://www.tamanmini.com/informasi/download/nawala_edisi_3.pdf


http://dspace.library.uph.edu:8080/bitstream/123456789/1155/2/jia-03-01-2006-arsitektur_rumah_tradisional_betawi1.pdf


http://www.jakarta.go.id/web/encyclopedia/detail/3796/Rumah-Kebaya


http://www.indonesia-tourism.com/jakarta/monas.html


http://www.jeforah.org/jakarta-kota-tua

















Comments