Membingkai Memori dengan Museum


Tampak depan Museum
Halo semua! akhirnya bisa meluangkan waktu untuk menulis lagi setelah beberapa lama 'nganggurin' ini blog. Kali ini aku pengen cerita soal kunjungan ku ke beberapa museum di Yogyakarta pada tanggal 2 Oktober 2016 lalu. Nah, yang pertama kali ingin aku ceritakan adalah Museum Hamengku Buwono IX yang berada di area Keraton Ngayogyakarta. Sesuai namanya, museum ini hanya menyimpan benda-benda bersejarah atau kisah hidup Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang terkenal dengan sabdanya "Tahta untuk Rakyat". Museum ini berada di dalam kompleks Kraton Yogyakarta yang diresmikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X, anak dari Sri Sultan Hamengku Buwono IX pada tanggal 18 November 1990 sebagai bentuk penghargaan terhadap sultan HB IX dan segala jasa-jasa dan perjuangan beliau untuk Yogyakarta dan Indonesia. Benda-benda atau peralatan, foto-foto dan tanda jasa serta barang yang ditampilkan dalam museum ini maupun yang diterima adalah milik almarhum Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Jam buka bersamaan dengan         Kraton Yogyakarta.


Sekilas tentang Museum HB IX
Berisi benda koleksi peninggalan Sri Sultan Hamengkubuwono IX, antara lain meja tulis, cindera mata, foto, beberapa penghargaan berupa medali, tanda jasa, dan surat keputusan presiden RI (penganugerahan pahlawan nasional untuk Sri Sultan Hamengkubuwono IX). Terdapat pula koleksi mobil-mobilan Sri Sultan Hamengkubuwono IX ketika masih kecil, peralatan memasak, bumbu dapur, baju, dan berbagai benda lainnya. (Dikutip dari : http://museumjogja.org/id/content/20-museum-keraton-yogyakarta )


 

Foto bersama didepan pintu masuk kawasan museum Keraton

Tiket masuk yang perlu kita bayar saat memasuki museum ini sebesar Rp.10.000 belum termasuk membayar tiket kamera, karena untuk memasuki museum dengan membawa kamera, perlu membayar tiket sebesar Rp.2000.

(Piagam Penetapan dari Presiden Soekarno)

View utama lobby
Tampak depan museum ini sangatlah terawat dan berbeda dengan kebanyakan museum yang memiliki tampilan depan yang terkesan membosankan. Museum ini sudah terbilang modern dari penataan dan keindahan bangunannya, namun tetap mengusung tema Keraton yang kuat di dalamnya. Museum ini memiliki arsitektur rumah joglo pada bagian depannya. Bentuk Museum ini sendiri seperti memutari ruangan ruangan di sebuah rumah. di mulai dari ruang tamu atau lobby nya museum yang menjadi kisah awal atau biografi awal Sultan Hamengku Buwono IX atau yang dikenal dengan nama kecil GRM Dorodjatun. Awalnya saya bertanya-tanya, apa itu GRM? dan ternyata setelah bertanya ke mbah google, GRM merupakan singkatan dari Gusti Raden Mas. Sultan Hamengku Buwono IX saat terkenal karena keberaniannya menyatakan menjadi satu kesatuan bagian dari Indonesia setelah kemerdekaan Indonesia. Saat memasuki   ruangan pertama atau lobby, akan ada kursi-kursi peninggalan milik Sultan Hamengku Buwono IX yang sering digunakan dulunya dan masih di abadikan dengan sangat baik. Lalu ada piagam-piagam perjanjian, alat tulis, dan pemberian gelar-gelar kepada Sultan Hamengku Buwono IX. Di setiap ruangan di dalam museum di jaga oleh para abdi dalem. Memutari museum ini sungguhlah menyenangkan karena sebenarnya museum ini tidak terlalu luas, namun pengaturan letak benda bersejarah dengan bentuk ruangan dan bangunan sangatlah mudah dipahami dan tidak mudah membuat pengunjung lelah ataupun bosan.


Piagam pemghargaan sultan


   
Pada ruangan selanjutnya, terdapat sebuah ruangan yang menyimpan benda-benda yang sering di pakai sultan semasa hidupnya. Sultan Hamengku Buwono IX terkenal dengan hobinya memasak dan fotografi. Terlihat jelas dari koleksi milik sultan yang banyak dan bagus-bagus untuk dimiliki pada masa itu. Koleksi kamera, alat masak, hingga buku-buku terbitan luar negeri tentang fotografi milik Sultan juga di tampilkan dengan rapi di rak-rak kayu dan kaca. Selain itu juga terdapat beberapa sarung tangan dan baju yang sering dipakai sultan pada masa hidupnya. Ada juga alat-alat makan keluarga sultan yang masih disimpan di museum.
(Ruangan kedua setelah lobby)

Pada ruangan selanjutnya, terdapat foto foto semasa sultan muda dan masih menjabat di dalam kepemerintahan Indonesia saat itu. Foto-foto bukti kerja dan peran sultan terhadap masyarakat tergambar jelas melalui foto foto ini. Beberapa foto kongres sultan juga terbingkai rapi di ruangan ini. Keunikan lain dari Museum ini adalah, selain menyajikan benda-benda peninggalan dan adanya papan deskripsi, terdapat pula penjelasan tentang cara menggunakan dan fungsi dari benda tersebut. Lalu penataan benda dan ruangan di museum ini sangatlah unik karena dari 4 ruangan display (termasuk lobby) hingga ruangan terakhir dibuat memutar dari kiri ka kanan, dan sesuai dengan tahun nya. Mulai dari sultan lahir hingga akhir hayatnya.
 (Ruangan Kedua)

(Foto Sultan Hamengku Buwono IX semasa Muda)

 Pada ruangan ke-3 terdapat lukisan besar Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang sering kita lihat di internet dengan seragam keraton kebangsaannya. Lalu terdapat pajangan-pajangan milik Sultan Hamengku Buwono IX yang terbuat dari kuningan dan beberapa lencana ataupun pedang dan benda-benda kemiliteran Sri Sultan yang dipakainya untuk bekerja. Di ruangan ini lebih banyak benda-benda yang dipakai sultan di bandingkan foto-foto seperti di ruangan sebelumnya. Di ruangan ini pula terdapat tongkat tahta milik Sultan. 
(Ruangan ke-3)
Foto ketika sultan menjadi delegasi bersama pejabat luar negeri

Di ruangan terakhir, terdapat baju-baju milik sultan yang masih di gantung di lemari dan surat-surat milik beliau yang diabadikan di pigura. Terdapat pula beberapa berita yang membawa nama sultan pada judul beritanya. Di penghujung ruangan ini, terdapat foto-foto sebelum sultan meninggal hingga foto saat sultan di bawa oleh seluruh rakyat Yogyakarta untuk di makamkan di Imogiri, tempat makam para raja Jogja. 

Berita meninggalnya Sri Sultan HB IX

Ternyata memasuki kawasan keraton ini seperti memasuki kawasan all in one, karena bisa melihat-lihat ke semua museum yang ada di kawasan keraton ini sendiri. Seperti ada ruangan khusus untuk menyimpan benda-benda hadiah milik para Sultan dari beberapa raja atau bahkan presiden, yang merupakan kolega-kolega kesultanan Yogyakarta pada masa itu.

Kebetulan sekali, saat sedang berkunjung ke Keraton sedang ada para penari yang sedang berlatih menari di selasar keraton.


Nah setelah puas jalan-jalan di area keraton, aku dan teman-teman ku berpindah ke museum Sonobudoyo di dekat kawasan keraton juga, namun sayang hari itu museum sedang tutup karena sedang ada renovasi. Lalu saya menempuh perjalanan jauh hingga ke Ring Road selatan untuk menuju ke Museum Wayang Kakayon, sayangnya (lagi) museum tersebut sudah tutup. Namun saya dan teman-teman masih sempat mengambil foto untuk kenang-kenangan di museum wayang Kakayon ini.
tampak depan gedung museum


Akhirnya untuk melengkapi perjalanan hari itu, kami mengunjungi Museum UGM yang mulai di resmikan pada Desember 2013 bertepatan dengan Dies Natalies UGM yang ke-64. Museum ini terletak di perumahan dosen UGM  dan tepatnya berada di belakang kantor DAA UGM.Sebagai salah satu mahasiswa Universitas Gadjah Mada tentunya kami harus mengetahui sejarah berdirinya kampus tercinta dan cerita-cerita masa lampau para tokoh yang telah berjasa hingga kini membuat UGM sebesar ini. Di dalam museum ini terdapat dinding timeline tahun sejak masa perjuangan Indonesia hingga bahkan pendirian UGM, hingga akhirnya berpuluh-puluh tahun kemudian UGM telah berdiri dan menjadi salah satu Universitas terbaik di Indonesia. Dari segi luas, museum ini tentunya kalah jauh dengan museum milik pemerintahan atau keraton, tapi museum ini sangatlah lengkap menceritakan jatuh-bangun UGM dari dahulu kala hingga kini. Terdapat pula barang-barang peninggalan tokoh-tokoh penting UGM yang disimpan di dalam museum ini sebagai saksi biksu sejarah.

Pada awal pendiriannya museum ini sangat banyak menarik minat wisatawan domestik hingga mancanegara karena museum ini menyimpan cerita berharga saat-saat awal perjuangan bangsa Indonesia dan UGM itu sendiri. Di museum inilah, kita bisa melihat beberapa koleksi yang menjadi bukti peran luar biasa UGM, baik sebagai universitas kerakyatan maupun perjuangan. Di dalam museum ini juga di pajang benda-benda yang dahulu dipakai semasa kuliah pertama seperti kursi, meja, hingga buku-buku yang sempat berkuliah di kawasan Keraton Ngayogyakarta.

Terdapat lima ruangan utama khusus sebagai tempat koleksi. Di ruang pertama, terpampang sejarah awal berdirinya UGM juga seiring perkembangan politik di Nusantara yang diawali pada tahun 1943, dengan berdirinya Sekolah Bagian Ilmu Kedokteran Gigi di Surabaya yang dibentuk Jepang. Hingga sejarah peresmian Gedung Pusat UGM oleh Presiden Ir Soekarno pada 19 Desember 1959.
Pada ruangan ini juga terdapat beberapa foto awal tempat perkuliahan mahasiswa UGM sebelum dipindahkan ke Bulaksumur. Seperti Pendopo Mangkubumen untuk kuliah Fakultas Kedokteran. Ada pula koleksi foto kunjungan Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru ke Indonesia menemui Presiden Ir Soekarno.


Ruang kedua, menonjolkan koleksi milik Prof Dr Sardjito. Bisa dikatakan ruangan ini khusus untuk mengenang rektor pertama UGM itu. Di ruangan ini ada koleksi meja, kursi, mesin ketik, dan foto-foto Prof Dr Sardjito. Ada pula sejarah penemuan obat tradisional oleh Dr. Sardjito yang kemudian diberi label Calcusol, sebagai obat peluruh batu ginjal.




Memasuki ruangan ketiga, ada berbagai koleksi berupa foto maupun koleksi pribadi beberapa tokoh penting UGM. Seperti Hardjoso Prodjo Pangarso, Teuku Jakob, dan Sukamto.

Sementara, ruangan ke-4 dan ke-5, dipamerkan koleksi alat penemuan Prof Herman Johanes (Rektor UGM ke-2) berupa tungku hemat energi dan beberapa koleksi pribadinya. Ada pula sejarah tokoh-tokoh penting lainnya yang memiliki peran penting dalam sejarah berdirinya UGM. Seperti Ki Mangunsarkoro, HB IX, dan Ki Hadjar Dewantara.

Nah, itu dia akhir dari kunjungan sehari membingkai memori dengan museum-ku. Sebagai manusia yang berbudaya, kita sangatlah wajib untuk mengenal budaya kita sendiri, dan mulailah kenali budaya dan sejarah yang ada di sekitar kita. Semoga tulisanku kali ini bisa menghibur dan membuat semua pembaca ingin mengunjungi tempat-tempat yang sudah aku ceritakan. Jangan lupa untuk menghargai dan mencintai budaya Indonesia tentunya:)

Salam Pariwisata!


Comments