Jembatan Cinta dan Pulau Tidung

Halo!
Finally bisa ngeblog lagi walau sebenarnya bingung juga mau nulis yang mana, karena saking banyaknya cerita yang pengen ditulis. Setelah memikirkan beberapa jam, akhirnya kepikiran juga untuk menuliskan cerita perjalanan ke Pulau Tidung sama temen-temen SMA bulan april 2016 lalu atas selebrasi selesainya UN.
Pada pukul 07.00 saya dan teman teman berangkat dari meeting point di halim menuju pelabuhan Muara Angke, karena disana tempat kapal start ke Pulau Tidung. Kurang lebih selama 2 jam, kita sudah sampai di Muara Angke.  Matahari nya masih sangat terik, karena masih pagi. Setelah menunggu mas-mas yang mengakoordinasi tour ke Pulau Tidung kita datang, saya dan teman teman saya memasuki kapal. Kecewanya, ternyata kita masih harus menunggu kurang lebih 45 menit untuk bisa berlayar karena setiap kapal harus membawa paling tidak 2 rombongan.

matahari pagi Muara Angke
Sebelum berangkat, saya berekspektasi akan mendapat kapal yang bagus seperti kapal yang saya naiki dahulu saat ke Pulau Bidadari, terbuat dari besi, bersih, ber-AC dan nyaman. Ternyata, yang kali ini saya naiki adalah kapal ekonomi biasa yang kursinya banyak banget, parahnya, tidak ada AC, kipas pun hanya di beberapa sudut. Jujur waktu itu saya sudah sangsi mampu melanjutkan perjalanan karena saya yakin saya pasti mabok. Dengan kapal yang bagus saja saya pusing, apalagi dengan kapal yang seadanya dan memakan waktu lebih lama (2 jam) karena Pulau Tidung berada di pojok perbatasan kawasan Pulau Seribu.
Kaya bis gitu dalem kapalnya


Jakarta dari kejauhan
Sebelum kapal berangkat, saya sempat bingung harus melakukan apa saja di kapal selama 2 jam. Jangan harap akan melihat pemandangan bagus atau apa, karena saat sudah 45 menit keatas hingga 15 menit sebelum kapal berhenti, yang diliat hanya lautan. Bayangin gimana pusingnya. 
hal pertama yang saya lakukan waktu itu adalah foto-foto. Namun setelah beberapa menit foto, rasanya puyeng banget di kapal, goyang-goyang, di kapal lantai satunya pula, udaranya panas, dan ada bau minyak. Akhirnya saya duduk, dan mulai untuk memaksakan diri buat tidur. Satu jam kemudian saya terbangun karena ternyata kapalnya sudah mulai memasuki kawasan Pulau Tidung. 
Foto sebelum Mabuk laut
Dengan baju udah hampir penuh dengan keringet, saya memaksakan diri untuk berjalan keluar dari kapal dan mengikuti rombongan. Pemandu kita mengarahkan kita ke tempat peminjaman sepeda di dekat pelabuhan. Karena Pulau Tidung adalah pulau administratifnya Kepulauan Seribu, atau ibaratnya Ibu Kota nya Pulau Seribu, maka Pulau Tidung terbilang ramai oleh orang-orang mulai dari berdagang, rumah hunian, hingga wisatawan. Tapi jujur, lagi lagi ekspektasi saya yang kelewat jauh karena membandingkan dengan Pulau Bidadari yang notaben adalah Pulau nya orang foto "Pre Wedding" yang which is  sangat bagus dan tertata. Pulau Tidung penuh dengan rumah penduduk, pedagang, pasar, dan lebih mirip ke perkampungan di Jakarta. Dibilang kumuh sih tidak, tapi padat. 
Setelah memilih sepeda, kita masih harus mengayuh sepeda menuju homestay tempat kami menginap. Syukurnya, Homestay kami lumayan bersih dengan dua rumah, satu untuk yang perempuan, dan satu untuk yang laki-laki. 

Karena pada dasarnya saya dan teman-teman saya sangat bersemangat untuk mulai main ke pantai, akhirnya kita semua mulai ke pantai dengan pakaian siap basah (read: siap asin). Kita memilih untuk main permainan air terlebih dahulu karena mumpung sepi dan belum ada rombongan lain. Ada  beberapa permainan yang di sediakan, tapi yang gratis dan masuk kedalam paket tour hanya dua permaian yaitu Banana Boat dan Mangkok Ombak. 
Setelah puas main-main dengan permainan air, kami kembali ke homestay dan bersih-bersih. Tak lama makanan sudah siap, kita makan di depan homestay, karena kebetulan ada pendopo didepan homestay yang berhadapan langsung dengan laut.
Setelah makan, kita kembali menaiki sepeda dan menuju Sunset point nya Pulau Tidung di pojok barat pulau. Dengan menggunakan sepeda kurang lebih memakan waktu 30 menit, karena jarak dari homestay ke Sunset point lumayan jauh.


Keesokan harinya, saat teman teman saya masih tertidur, saya dan salah satu teman saya keluar dari Homestay duluan untuk berjalan-jalan duluan dan foto-foto kearah jembatan cinta. Karena masih sepi, jadi bisa foto-foto dengan bebas.

Saat jam menunjukkan pukul 9, saya melihat beberapa teman saya yang bermain dipinggir jembatan cinta. Katanya sih, Jembatan ini bisa membuat kamu bertemu jodoh kamu saat kamu berani untuk melompati jembatan ini dan terjun ke laut. Tapi karena waktu itu lagi jamannya SBMPTN, SNMPTN dan segala hal yang berkaitan dengan PTN, kami mengubah nama jembatan cinta menjadi jembatan Cita-cita. Siapapun yang berani terjun dari atas jembatan kebawah laut, harus berani melantangkan nama PTN dan prodi yang diinginkan. Awalnya tidak ada yang berani karena melihat tingginya jembatan, namun pada akhirnya satu persatu turun.


Jam 2 siang kami kembali ke pelabuhan untuk kembali ke Jakarta, dan sayangnya masih menaiki kapal yang sama walau beruntung bisa di lantai duanya. 

Sekian cerita perjalanan saya kali ini, semoga bisa dijadiin bahan pertimbangan kalau ingin menginap dan berkunjung ke Pulau Tidung:)

Salam Pariwisata!


Comments