Jejak memori di Sabang



Oleh: Akyunia Labiba



Perjalanan selalu meninggalkan berbagai jejak langkah di tanah dan jejak memori di ingatan. Setelah sekian banyak tempat wisata dan perjalanan yang saya lalui, Sabang adalah yang terbaik. Pantainya, perbukitannya, kejernihan lautnya, museum peninggalannya, arsitektur gedung-gedung tuanya, semuanya memberikan kesan yang mendalam. Sejak kecil saya selalu bermimpi, bisa jalan-jalan keliling dunia. Siapa pula yang tidak punya mimpi untuk “Travelling around the world”? Kata-kata itu pasti selalu ada di bucket list tiap orang, termasuk saya. Namun seiring berjalannya waktu dan usia yang bertambah, bucket list saya juga mulai berubah. Saya tetap ingin bisa berjalan-jalan keliling dunia, tapi kenapa harus keliling dunia dulu saat kita punya dan tinggal di Indonesia yang memiliki sejuta keindahan untuk di explore. Kemudian bucket list milik saya bertambah menjadi “Pergi ke ujung 4 penjuru mata angin Indonesia” yang berarti ke Ujung Indonesia bagian Barat, Timur, Utara, dan Selatan. Indonesia memiliki Pulau Dana di Ujung Selatan, Pulau Miangas di Ujung Utara, Merauke di Ujung Timur, dan Pulau Weh di Ujung  Baratnya. Yang menarik dari perjalanan kali ini, pada akhirnya saya bisa menginjakkan kaki di salah satu pulau terluar Indonesia tersebut.

Juni 2016 lalu, saya dan keluarga berangkat ke Aceh. Perjalanan kali ini bisa saya katakan setengah liburan, setengah travelling untuk saya. Berangkat dengan penerbangan pesawat pertama melalui Bandara Halim Perdanakusuma pada jam 7 pagi membuat saya menjadi sedikit “grumpy” karena masih sedikit mengantuk. Perjalanan menuju Aceh memakan waktu dua setengah jam. Melalui atas pesawat, hamparan Pulau Sumatera terlihat sangat memukau mata. Gunungnya, lautannya, daratannya, semua terlihat indah ditemani sang mentari pagi yang menghangatkan. Kami disana menyewa satu mobil untuk mengelilingi kota Banda Aceh dalam dua hari, di satu hari pertama dan di satu hari terakhir. Saat itu sedang bulan puasa, jadi sedikit banyak sangat mempengaruhi jadwal liburan dan kegiatan yang akan kami lakukan disana. Berkunjung ke Aceh saat sedang Bulan Puasa membuat saya sangat merasakan kentalnya Budaya Islam yang ada di Aceh, bagaimana penduduk Aceh
(yang mayoritas adalah islam) melakukan beragam beraktivitas. Hampir semua masjid yang saya lihat di Aceh memiliki bangunan megah dan berarsitektur indah.

Di Aceh, tidak ada masjid yang kumuh atau bahkan bisa dikatakan jelek. Saat puasa, kebanyakan objek wisata dan rumah makan memang tutup, hanya rumah makan besar dan objek wisata tertentu yang buka. Turis pun sangat sepi saat puasa, jadi saya benar-benar bisa merasakan liburan yang menyenangkan saat di Aceh. Beberapa pantai di Pulau Weh (Sabang) memang sangat sepi karena tidak ada aktivitas pariwisata pendukung di dalamnya. Pantainya terbuka untuk umum, namun tidak ada warung, toko, atau jasa penyewaan kapal yang buka untuk wisatawan karena sedang bulan puasa.

Kami check-in di Hotel Mekkah yang terletak di jalan Soekarno-Hatta sesampainya di Banda Aceh. Namun kami tidak berlama-lama di hotel, kami sekeluarga beranjak ke Masjid Baiturrahman yang megah. Sesampainya disana, saya sempat terdiam dan mematung di depannya saat memasuki masjid megah satu ini. Jika dibandingkan dengan kemegahan Masjid Istiqlal di Jakarta mungkin memang tidak sebesar itu, tapi keindahannya memukau mata saya saat pertama kali memasuki masjid ini. Saat saya disana sangat disayangkan masjid ini sedang melakukan renovasi di bagian menaranya yang terletak didepan masjid, dan terdapat beberapa asbes yang menutupi area serambi masjid, yang mengakibatkan saya tidak bisa melihat secara keseluruhan masjid ini. Saya memasuki masjid, terlihat ada hiasan lampu-lampu yang menggantung indah dan lagi-lagi memukau saya. Rasanya saya ini di negeri antah berantah menyaksikan keindahan dalam satu tempat ini. Wajar kalau masjid ini sebagai simbol Aceh, dan disebut Serambi Mekkah. Lantai marmer yang saya pijak terasa dingin, padahal cuaca di luar sangat panas. Setelah mengelilingi Masjid Baiturrahman, saya berpindah ke salah satu museum utama milik Aceh pasca Tsunami tahun 2006. Namanya museum Tsunami Aceh, sesuai dengan adanya keberadaan museum ini. Museum ini dibangun dan didesain oleh walikota Bandung, Bapak Ridwan Kamil. Museum ini terlihat mencolok karena arsitekturnya yang sangat terlihat modern diantara rumah-rumah tradisonal dan gedung-gedung parlemen daerah yang masih sangat menjunjung tinggi kedaerahannya. Jika ingin memasuki museum ini membutuhkan biaya sebesar Rp10.000. Museum dengan gedung bertingkat 4 ini dibagi menjadi beberapa ruangan yang dapat di jelajahi oleh pengunjung. Biasanya museum di kota lain yang pernah saya kunjungi buka di hari selasa hingga jumat atau hingga minggu bahkan. Berbeda di Aceh, Hari Jumat adalah hari sakral dan hari yang sangat ‘tenang’ dari segala macam kegiatan. Walau tetap buka di hari jumat, museum ini terlihat sepi dan hanya ada beberapa petugas yang berjaga.

Setelah membayar tiket, kami memasuki sebuah lorong, didepannya terdapat tulisan “Voice of Tsunami” dan ada papan peringatan di sampingnya yang memberitahu beberapa larangan untuk beberapa orang yang memiliki gangguan jantung, asma, dan beberapa penyakit lainnya. Sebelum saya memasuki lorong terbesit sedikit rasa takut karena beberapa peringatan yang dituliskan di depan. Tetapi didorong oleh rasa keingintahuan saya yang besar, saya mulai memasuki lorong perlahan-lahan. Lantai yang saya pijak terasa basah dan terdapat air yang sengaja di alirkan dari atas karena lorongnya menanjak dan licin jika tidak berhati- hati. Namun belum sampai setengah lorong, saya mendengar rekaman suara orang- orang yang berteriak, menjerit, menyebut nama Allah, dan lain sebagainya bersahutan. Bulu kuduk saya merinding. Kini saya paham bahwa ini adalah lorong yang menunjukkan dahsyatnya Tsunami kala itu bersama suara jutaan orang-orang yang berteriak ketakutan saat ombak dahsyat itu menerjang 2006 silam. Saat itu saya terenyuh membayangkan banyaknya orang berlarian menghindari ganasnya ombak yang tingginya bahkn melebihi menara masjid. Diantara suara jeritan ratusan orang yang bersahutan, terdengar sekilas beberapa orang masih
meneriakkan nama-Nya.
Ruangan selanjutnya adalah “Chamber of Pray” yang berisikan ratusan hingga ribuan nama yang di pasang di dalam ruangan melingkar. Nama-nama tersebut adalah nama-nama orang yang tidak berhasil selamat dari musibah naas tersebut. Ruangan tersebut sedikit banyak membuat saya sadar, hidup tidak ada yang mengetahui kapan dan bagaimana jalannya kecuali Allah. Bahwa hidup ini bisa diambil dan berakhir kapan saja tanpa kita sadari. Setelah saya puas berkeliling, saya dapat menyimpulkan bahwa Kota Banda Aceh terbilang kecil dan dapat dikelilingi dalam satu hari saja, namun akan berbeda cerita saat kita ingin mengelilingi satu Provinsi Nanggro Aceh Darussalam (NAD) secara keseluruhan.

Hari Kedua, saya dan keluarga menyebrang ke Pulau Weh atau yang sering disebut Sabang atau Pulau Sabang. Melalui pelabuhan Ulee Lheue di Banda Aceh, kami menggunakan kapal express untuk menyebrangi pulau sabang yang memakan waktu 45 menit dengan kapal. Sesampainya di Pelabuhan Balohan di Pulau Sabang, kami langsung mengunjungi objek wisata Titik 0 KM Indonesia. Katanya lokasi ini adalah batas paling barat daratan Indonesia makanya dinamakan Titik 0 KM Indonesia. Kami perlu melewati jalanan ditengah hutan yang menanjak dan masih banyak tumbuhan yang sangat alami untuk mencapai objek wisata Titik 0 KM Indonesia. Beberapa kali ditengah jalan sopir mobil yang kami sewa berhenti mendadak karena ada monyet yang tiba-tiba menyebrang atau sedang ‘nangkring’ di tengah jalan.

Saat itu, ada beberapa jalan yang sedang berada dalam masa perbaikan dan pengerukan tanah dan menyebabkan beberapa mobil harus bergantian untuk melewati jalanan itu termasuk mobil yang kami naiki. Titik 0 KM Indonesia ternyata hanya berupa tugu dan menara mercusuar yang masih dalam tahap pembangunan yang terletak di pinggir tebing. Suara ombak yang bersahut-sahutan menabrakkan dirinya ke karang-karang batu dengan kencangnya. Ombak-ombak itu memecah, kemudian menyatu dan luruh bersama-sama lagi. Setelah akhirnya puas menikmati pemandangan lautan lepas dari atas tebing di Titik 0 KM, kami kembali turun kebawah untuk memburu beberapa pantai indah nan eksotis di pulau ini. Sekali melihat sekeliling, saya bisa mengetahui, bahwa Sabang adalah pulau yang indah, terlampau indah. Sangat disayangkan, masing belum banyak fasilitas pariwisata yang diberikan di wilayah ini. Selama perjalanan menuju Titik 0 KM Indonesia, yang terlihat hanya hutan, perkebunan warga, dan hanya rumah-rumah warga yang terlihat jarang-jarang. Semakin saya naik keatas, semakin tidak terlihat adanya tanda-tanda kehidupan. Para pedagang yang berjualan aksesoris di puncak Titik 0 KM Indonesia pun tidak banyak, hanya bermodalkan atap terpal dan meja kayu dan bambu. Seharusnya mereka bisa memberikan lebih dari itu, karena turis yang datang banyak dari berbagai manca negara. Masih banyak potensi di semenanjung Barat ini yang wajib di lestarikan. Pantai pertama yang kami temui keindahannya sembari turun dari Titik 0 KM adalah Pantai Iboih. Pantai yang bersebrangan dengan Pulau Rubiah ini memiliki pasir putih halus dengan beberapa kapal nelayan yang berjajar rapi di pinggir pantai. Beruntungnya saya saat itu, walaupun sedang Bulan Puasa masih ada dua toko yang menyewakan alat snorkling dan diving di Pantai Iboih, dan ada beberapa kapal yang bisa di sewa untuk mengelilingi pulau Rubiah. Awalnya saya berniat ingin snorkling, namun karena cuaca tidak mendukung, akhirnya kami menyewa kapal dengan tangki kaca pembesar ditengahnya yang digunakan untuk melihat keadaan di bawah laut. Masih banyak terumbu karang yang masih alam dan terjaga keindahannya di bawah laut. Ikan-ikan cantik berbagai warna dan bentuk berenang diantara batuan dan terumbu karang. Nelayan yang membawa kami bersama kapalnya juga menunjukkan beberapa titik terumbu karang yang rusak bahkan hancur akibat Tsunami di tahun 2006 silam. Air lautnya yang berubah dari hijau ke biru, atau kadang sebaliknya sangat indah. Mata ini tak henti-hentinya melihat berbagai macam kebesaran-Nya, bibir ini tidak henti-hentinya pula mengucap syukur akan nikmat yang tiada tara indahnya ini.

Hari pertama datang ke Sabang, saya sudah memiliki list pantai-pantai yang harus di kunjungi selama 2 hari Sabang seperti pantai Sumur Tiga, pantai Gapang, dan beberapa pantai indah lainnya yang saya ketahui melalui the one and only Google. Setelah pantai Iboih, kami mencari penginapan yang memiliki fasilitas makan saat sahur berhubung saat itu sedang bulan puasa. Bermodalkan mesin pencari, kami menuju sebuah resort bernama Casanemo. Sesampainya disana, kami turun dan menanyakan harga kamar juga melihat-lihat keadaan resort. Ternyata, penginapan ini memiliki pantai privat yang sangat indah di belakangnya yang masih satu pantai dengan pantai Sumur Tiga. Air lautnya berbeda dengan di Pantai Iboih yang terlihat sangat hijau kebiru-biruan berpadu dengan warna tosca. Di pantai Sumur Tiga, warna biru air lautnya terlihat sangat muda dan tenang. Sangat disayangkan, resort ini tidak menyediakan makanan untuk sahur. Setelah mencari beberapa penginapan, akhirnya kami menginap di Nagoya-Inn. Walau katanya penginapan ini milik orang berdarah cina, dan memang bangunannya sangat kental dengan arsitentur cina yang banyak berwarna merah, penginapan ini menyediakan sahur untuk orang muslim yang berpuasa. Selama di Aceh, jalan-jalan saat sedang bulan puasa pun memiliki tantangan tersendiri bagi saya. Tidak jarang saya ingin membatalkan puasa karena ingin melakukan beberapa hal yang tidak bisa di lakukan karena kita sedang berpuasa. Berkali-kali pula saya berusaha untuk memperkuat iman agar kuat puasa hingga akhir hari. Beruntungnya, di Aceh maupun Sabang sendiri, pedagang makanan di pinggir jalan maupun tempat makan biasanya baru akan buka menjelang buka puasa. Jadi andaikan tidak berpuasa pun, tidak banyak yang dapat di makan di Aceh saat siang hari. Selama 4 hari 3 malam yang saya miliki di aceh, saya mungkin belum bisa menggambarkan keseluruhan satu Provinsi Aceh, karena saya hanya ke bagian barat provinsi Aceh. Bagi saya Aceh itu indah, sangat indah malah. Kekayaan alam

Aceh bagi saya tidak ada duanya. Mereka boleh bilang Raja Ampat terbaik, iya mungkin di Timur Indonesia Raja Ampat yang terbaik. Namun jangan pernah samakan tiap objek wisata ataupun daerah di Indonesia satu dengan lainnya. Ada ciri khas di tiap tempat yang tidak bisa disamakan. Ada keragaman budaya, adat, dan etnis yang menjadi keunikan tiap lokasi wisata. Menceritakan pengalaman perjalanan akan selalu menarik. Bagi saya, bukan bagaimana kita memberi tahu orang lain tentang detail perjalanan kita, tapi bagaimana tiap perjalanan itu mampu memberikan jejak memori di ingatan kita yang dapat dikenang seumur hidup. Saya tidak perlu menceritakan bagaimama indahnya karang-karang dibawah permukaan laut Pantai Iboih, bagaimana eksotisnya pantai-pantai di Pulau Rubiah, bagaimana indahnya semburat senja di pantai Sumur Tiga, dan bagaimana suara ombak yang menantang di tepi jurang Tugu Titik 0 KM, cukup apa yang ada di ingatan ini, dan apa yang telah diberikan oleh Aceh, Pulau Weh, dan Sabang sebagai oleh-oleh yang akan bertahan selamanya di jejak memori, karena tidak ada yang lebih abadi dari perjalanan yang menyisakan kenangan indah di ingatan yang akan bertahan selamanya. Aceh bagi saya bukan sekedar objek wisata atau sekedar destinasi yang pernah saya kunjungi.

Aceh bagi saya adalah pengingat, bahwa ada beragam keindahan di Indonesia yang masih harus saya explore, dan sebagai pengingat bahwa saya pernah punya kesempatan untuk menginjakkan kaki disana
.
 

Comments