Toleransi dan keberagaman di Desa Wisata Ngringinan

     Sabtu lalu, pada tanggal 10 Maret 2018 pukul 08.00 WIB tepat saya dan teman-teman mengunjungi salah satu desa wisata yang berada di kabupaten Bantul tepatnya di Desa Wisata Ngringinan, Palbapang, Bantul, Yogyakarta. Agenda kami hari itu adalah kuliah lapangan salah satu mata kuliah kami di Diploma Tiga Kepariwisataan Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (SV UGM). Pembukaan dimulai sekitar pukul 08.30 dan disambut langsung oleh bapak Windu Kuntoro yang akrab disapa Pak Kun selaku ketua desa. Hari itu kami berkumpul bersama Pak Kun di Museum Bantul masa Belanda mendengarkan cerita beliau mengenai latar belakang hingga sejarah dari Desa Wisata Ngringinan ini sendiri.
Dok. Pribadi Akyunia Labiba


Setelah berbincang-bincang dan melalui sesi tanya jawab beberapa menit, kami dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok saya, kelompok pertama mendapat kesempatan untuk mengelilingi desa wisata Ngringinan, Ganjuran ini terlebih dahulu. Ditemani panasnya matahari siang itu, kami mengelilingi desa menuju atraksi yang paling terkenal disana dengan berjalan kaki. Atraksi yang menjadi tujuan kami yaitu Gereja Katolik Ganjuran. Gereja yang memiliki candi di halaman belakangnya ini menjadi atraksi yang menambah daya tarik tersendiri di dalam kompleks Gereja. Selain adanya candi, ada pula beberapa kapel dan pendopo yang masih aktif digunakan. Ada pula lonceng dari menara tinggi di sebelah lokasi utama tempat peribadatan.

Desa Wisata Ganjuran merupakan salah satu desa wisata yang menyediakan wisata religi di dalamnya. Walau agama Katolik adalah agama yang paling mencolok di desa ini, namun agama-agama lain pun turut serta dalam dan memiliki andil penting dalam perkembangan desa ini. Keunikan Desa Wisata Ngringinan ini memang terlihat jelas dari sisi Toleransi agama yang dimilikinya.

Comments