Kenapa D3 Kepariwisataan UGM?


Gendhing Budaya 2018
Harusnya tulisan ini di publish 2 tahunan yang lalu, saat pertama kali masuk ke jurusan D3 Kepariwisataan, Sekolah Vokasi UGM. Tapi waktu itu, saya belum menemukan alasan tepat dan kuat yang bisa dijadikan motivasi yang mungkin dicari pembaca, kenapa saya dan mungkin beberapa orang lainnya- Mungkin kamu, iya kamu yang sedang membaca ini- harus memilih jurusan D3 Kepariwisataan UGM.

so, it's better late than never :)


Setiap ada yang nanya,
"Kenapa sih ngambil D3? Kenapa masuk jurusan pariwisata?" dan sederet pertanyaan lainnya yang sejenis, saya selalu jawab
"Karena suka jalan-jalan" atau jawaban cliche lainnya. Tapi itu dulu, 2 tahun lalu saat saya masuk jurusan ini karena merasa "Kecemplung" aja.

Tidak bisa dipungkiri bahwa alasan pertamanya adalah karena: 

"Yang penting masuk UGM dulu, jurusan belakangan deh" 
dan, yang sedikit sakit di sebutkan...
"Ya karena ga keterima terus di S1" 
that, finally i spill that out
But turns out, saya sangat mencintai jurusan saya saat ini di D3 Kepariwisataan UGM. 

So here is a story yang masih melekat dengan jelas di kepala saya, tentang 2 tahun lalu (tahun 2016) saat saya keterima di jurusan ini. 

21 Juli 2016, selepas solah Isya 

Masih termenung di mushola rumah, dengan hp yang berada di sebelah sajadah. Hari itu saya sudah pasrah se-pasrah-pasrahnya akan hasil yang diterima. 
Kalau orang bilang, udah bener-bener nothing to lose. Udah berusaha semaksimal mungkin untuk tidak berharap pada lambang hijau, karena 3 bulan belakangan selalu ketemu tanda merah, kata "MAAF" dan kata penolakan lainnya dari server. Setelah sujud terakhir yang benar-benar berharap untuk dikuatkan untuk membuka akun ujian mandiri ugm, saya akhirnya mengambil hp saya. Perlahan-lahan membuka layar internet dan memasukkan kode data diri dan password. 
saat Loading, hp saya kembalikan ke lantai dan saya balikkan layarnya. 

Iya, segitu takutnya liat layar hp waktu itu..

Setelah menghitung 60 detik, saya membalikkan layar hp. Ada warna hijau disana. Tanpa aba-aba, saya langsung teriak sampai satu rumah (bahkan mungkin tetangga) denger. Mulai dari Papa saya yang ikut lari ke Mushola karena dikira saya jatuh atau terpeleset, dan mama saya yang mengira saya melihat kecoa atau hal lainnya yang biasa membuat saya teriak histeris.
"MA PA AKU KETERIMA DI UGM" 
Tanpa aba-aba, mereka memeluk saya bahagia. Padahal, tau jurusannya apa saja tidak. Bertubi-tubi mereka mencium saya dan memeluk saya memberi selamat. Bahagiaa...... sekali waktu itu. Lebih membahagiakan dari dapet uang lebaran.

Setelah beberapa saat kebahagiaan, barulah papa saya bertanya,
"Jurusan apa kak?"
Dengan polosnya, saya cuma menjawab,
"Belum tau pa, hehe. yang penting tandanya hijau"
Setelah itu saya bergegas membuka akun Pengumuman dari Laptop yang layarnya lebih besar dan jelas dibanding HP. Barulah tertera kalau jurusan yang saya dapatkan adalah D3 Kepariwisataan. Saya ingat, waktu itu saya sangat bersyukur. Walau sejujurnya saya bener-bener tidak tau Pariwisata itu nanti akan belajar apa. Waktu itu saya mengambil jurusan Kepariwisataan dan Manajemen di UTUL 2 (Khusus Sekolah Vokasi). Kalau mengingat itu sekarang, saya bersyukur masuk di Kepariwisataan, bukan Manajemen. Sepertinya sih bakalan nggak sanggup kalau di Manajemen yang berkutat sama Akutansi dan buku hitungan lainnya.

Setelah penerimaan, saya disibukkan dengan berbagai macam persiapan ospek atau PPSMB kalau di UGM, yang jaraknya cuma satu minggu dari saya keterima. Sedikit panik, karena tugas nya ternyata sangat-sangat banyak dengan waktu seminggu. Untungnya, banyak bantuan yang saya dapatkan selama mengerjakan persiapan PPSMB UGM 2016 saat itu. Belum selesai disitu, selanjutnya saya panik mencari kos-kosan karena udah mepet masuk pasti hampir semua kosan penuh dan mahal-mahal. Bersyukurnya juga, waktu itu ada sahabat yang mau menemani mencari kos-kosan di sekitar UGM.
PPSMB dilaksanakan selama satu minggu, bahagia dan tak terlupakan. Bertemu teman-teman dari berbagai daerah dan keseruan lainnya. Karena pada dasarnya saya sudah berharap untuk kuliah di UGM sejak kecil, jadi semua saya lakukan dengan bahagia dan tanpa beban waktu itu.

Memasuki masa Perkuliahan

D3 Pariwisata UGM kelas A angkatan 2016


Satu bulan berlalu, saya mulai kehilangan semangat dalam perkuliahan. Bukan UGM nya, tapi jurusannya.  Saya mulai memasuki fase dimana "Cocok nggak sih di jurusan ini?" Bukannya tidak bisa mengikuti perkuliahan, tapi ada banyak hal yang belum saya pahami saat memasuki jurusan Pariwisata karena saya basicnya adalah anak SMA jurusan IPA pula. Sedangkan pendidikan D3 ternyata sangatlah praktik, walaupun banyak teman saya yang mengatakan SMK lebih berat ketimbang Diploma 3.
Bersyukurnya saya, saya memiliki dosen-dosen yang sangat membuka wawasan saya, mau diajak sharing dan membantu saya mengatasi "Kebingungan" saya. Dengan sharing dengan dosen di Prodi, dan mendengar cerita pengalaman Kakak Tingkat, banyak membantu saya untuk mulai menerima bahwa saya berada di jurusan ini karena sebuah alasan. Satu tahun pertama kuliah di D3 Kepariwisataan UGM membuat saya banyak belajar mengenai dunia perkuliahan dan mencoba meng-explore sebanyak mungkin kegiatan dan aktifitas kampus yang saya sukai. Saya mulai menemukan dunia lain yang diluar jurusan dan malah semakin aktif di tingkat universitas. Bisa jadi itu adalah salah satu cara saya untuk menghindari ketidak-nyamanan saya terhadap kuliah. Mencoba bertahan di Jurusan yang sebenarnya suka, tapi masih belum yakin itu ya susah-susah gampang. Butuh banyak keyakinan dan motivasi diri untuk bertahan.
Memasuki semester 2 akhir, saya mulai bingung karena harus ada OJT atau On the Job Training. Simpelnya, magang. OJT ini wajib dilakukan mahasiswa D3 Kepariwisataan sebanyak 2x sebelum akhirnya PKL di semester 6. Karena semester 2 wajib OJT di Hotel, jujur saya sempat bingung karena saya sangat tidak suka materi Perhotelan selama semester 2. Setelah banyak konsultasi dengan DPA dan orangtua, saya akhirnya memutuskan mengambil bagian PR (Public Relation) satu-satunya bagian yang saya suka dari sebuah hotel. Selama magang di Hotel saya banyak belajar mengenai marketing juga, dan hal-hal lainnya yang menambah pengetahuan. OJT mungkin memang awalnya bikin sebal, karena mengambil waktu liburan kita seharusnya. Ditambah waktu itu saya juga mengikuti kepanitiaan PPSMB UGM 2017 dan mengakibatkan saya nggak pulang ke Jakarta selama hampir 5 bulan. Untuk tingkat anak Maba, itu mungkin rekor terlama nggak pulang. (Walaupun makin jadi mahasiswa tua juga makin lama tingkat nggak pulangnya, haha)

Melalui OJT saya semakin yakin pada jurusan saya, semakin yakin bahwa pilihan saya untuk bertahan di D3 Kepariwisataan bukan pilihan yang salah. Semakin menjadi mahasiswa tua, semakin banyak kegiatan yang diemban dan dengan tanggungjawab yang tinggi juga. Semakin banyak pula jabatan yang di pegang dan harus diberikan fokus ekstra. Semester 3, ada salah satu mata kuliah yaitu MICE yang mengharuskan mahasiswa membuat event dan bergelut dengan EO (Event Organizer). jadi melalui jurusan D3 Kepariwisataan ini, saya mempelajari hal yang saya sukai tidak hanya dengan materi namun melalui praktek langsung.
Kuliah di D3 Kepariwisataan sendiri memang di bagi beberapa blok materi tiap semesternya. Semester 1 dasar awal pariwisata, Semester 2 blok Perhotelan, Semester 3 blok Tour & Travel, Semester 4 blok Destinasi, dan Semester 5 blok Special Interest of Tourism. Dilanjutkan dengan PKL di semester 6. Melalui pembagian blok itu, saya bisa mencoba banyak hal dan mengetahui minat saya di bidang apa.

Kenapa kuliah di D3 Kepariwisataan sih?


Pertanyaan diatas adalah salah satu pertanyaan terbanyak yang selalu saya terima setiap kali bertemu orang baru dan menanyakan jurusan saya.
Because, Why not? :) 
Kuliah di jurusan ini membuat saya memiliki banyak pengalaman praktik, banyak jalan-jalan nya dan kuliah lapangan terus pergi ke tempat-tempat baru. Melalui jurusan ini, saya banyak bertemu orang baru di industri pariwisata langsung. Kuliah di D3 Kepariwisataan memberi saya banyak kesempatan untuk bisa meng-explore diri saya sendiri dengan berbagai macam cara. Semenjak masuk jurusan pariwisata, jalan-jalan saya bukan lagi sekedar jalan-jalan. Tapi selalu saja ada hal yang dapat saya observasi. Jalan-jalan dapat menjadi sebuah pembelajaran dan pengalaman lapangan yang berguna untuk di kelas saat kuliah. Mayoritas dosen dosen di D3 Kepariwisataan juga merupakan dosen yang memiliki expertise nya masing-masing di bidangnya, dan senangnya lagi mereka memiliki banyak pengalaman jalan jalan yang keren.
Serunya di jurusan pariwisata itu justru sebenarnya saat melakukan On the Job Training nya karena kita diwajibkan, setidaknya kita dipaksa untuk keluar dari zona nyaman dan 'nyemplung' ke dunia kerja. Beda rasanya saat memasuki dunia kerja di Industri Pariwisata yang terkadang jauh dari teori di kelas atau praktik di kampus. Dengan OJT juga kita jadi tau sejauh apa materi yang kita pelajari selama ini, apa yang kurang dari kita, apa yang harus dikejar.
Tapi memang, diatas semua kemudahan dan kenyamanan kuliah di jurusan Pariwisata, saya tetap harus menyadarkan diri saya, bahwa saya masih harus banyak belajar. Masih banyak hal yang harus saya kejar, dan saya tidak boleh cepat merasa puas.

Mungkin segitu saja cerita saya kali ini.

Intinya, saya bersyukur masuk di jurusan ini bukan sesuatu hal yang saya sesali. Karena mungkin tanpa jurusan ini, saya tidak akan mendapatkan pengalaman sebanyak ini.




Bali, Juli 2018





Comments