Setiap tempat Punya Cerita

Sebentar lagi saya memasuki usia berkepala 2. Bukan usia yang terbilang muda lagi, dan bukan lagi usia yang masih main-main dalam hidup yang sebentar. 
Semakin bertambah usia saya, semakin banyak perjalanan yang saya lewati, semakin banyak tempat-tempat indah yang saya kunjungi. Selalu bersyukur kepada tuhan, bahwasanya saya memiliki sebuah kesempatan, privilage yang mungkin tidak semua orang bisa dapatkan. Saya dapat melakukan perjalanan, berwisata, hal yang benar-benar saya cintai. 

Photo by: Akyunia Labiba

Dalam kurun waktu 2 tahun belakangan, Juni 2016 hingga saat ini di tahun 2018, setidaknya sudah banyak sekali tempat yang saya singgahi, dan masing masing memiliki kesan mendalam. 
Aceh dan Sabang, yang keindahannya tidak dapat terlukiskan lagi dan selalu berkesan dihati. Yogyakarta, yang walau sudah puluhan atau bahkan ratusan kali kesana hingga akhirnya menghuninya karena menempuh pendidikan disana, saya tetap menemukan kenyamanan didalamnya. Selalu ada cerita baru di Yogyakarta yang mewarnai hidup saya. 
Lembang, sebuah perjalanan untuk melepas rasa dan belajar mengikhasklan. Pulau Tidung, yang katanya memiliki jembatan cintanya, justru malah saya kunjungi bersama teman-teman semasa SMA. 
Semarang, Solo, Surabaya, yang menemani perjalanan saya di tahun 2016 hingga pertengahan 2017. Setiap perjalanan selalu meninggalkan highlight nya tersendiri. Selalu ada memori yang membekas akan sebuah kota. Baik atau buruk, menurut saya sama saja. Karena tanpanya, cerita itu takkan lengkap. 
Bertahun-tahun hidup di ibukota, terkadang saya suka ngedumel akan macetnya yang luar biasa. Namun dulu saya pernah berkata dalam hati, "Suatu saat saya akan rindu hal ini. Macet, menunggu hujan di halte, rebutan mendapatkan tempat duduk di angkot, antri berjam-jam demi Transjakarta dan bus, berlarian mengejar sang waktu sakral" dan ya, saat saya pindah ke Yogyakarta, saya merindukan si Ibukota yang sudah saya tinggali selama 11 tahun. Jakarta seperti menyimpan romansanya sendiri untuk saya, karena disanalah saya tumbuh. Disanalah karakter saya berkembang dan berubah. Disanalah saya menemukan artinya cinta pertama, perjuangan, kehidupan, sahabat, dan banyak hal lainnya. Pun, 11 tahun bukan waktu yang sebentar. Jakarta selalu memiliki sudut di ruang hati saya. 

Lalu sejak oktober 2017, entah bagaimana semuanya berawal disini. Perjalanan yang tidak ada habisnya. 
Bawean,  Pacitan, Malang, Batu, Belitung, Malaysia, Bangkok, Pattaya, Madinah, Mekkah, Bali, hingga Sumba. 

Berderet tempat yang sudah saya singgahi hingga saya menuliskan tulisan ini.  
Mereka semua memiliki cerita, karena setiap tempat punya cerita. 

lalu dengan berjalannya setiap perjalanan tersebut, selalu ada kata pulang yang menanti. Selalu ada rumah yang ingin saya gapai kembali. Karena sebuah perjalanan tentunya mencari rumahnya bukan? 

jadi kepada pulang yang saya nanti, Terimakasih telah memberikan arti tersendiri untuk saya kembali. Terimakasih telah menjadi tujuan saya pergi dan dapat kembali. 


Akyunia Labiba
Bali, Juli 2018




Comments