Bad Trip or Bad Luck?

Banyuwangi, Tahun Baru 2021 


Tidak bisa dipungkiri, bahwa mendapatkan pengalaman jalan-jalan ke sebuah tempat tentu akan dibarengi dengan hal-hal yang terjadi selama perjalanan itu berlangsung – Baik atau buruk. Well, memulai tahun 2021 ini dengan judul tulisan yang ‘Bad’ semoga tidak membuat sisa tahun ini menjadi seperti judul ini ya. 

Menjelang tahun baru, aku dan keluarga memilih untuk melakukan road trip ke ujung pulau jawa yaitu Jawa Timur. Tepatnya, ke Banyuwangi. Selain karena aku sendiri sudah sangat lama ingin ke Banyuwangi, juga karena melihat kondisi COVID-19 saat ini, rasa-rasanya pilihan yang paling tepat untuk berlibur ya ke Banyuwangi saja. 

Sebelum perjalanan dimulai, ada kabar menyedihkan yang datang. Lagi-lagi karena adanya COVID-19 ini, Taman Nasional Baluran di Banyuwangi di tutup mulai tanggal 22 Desember hingga 3 Januari. Rasanya sedih dan kecewa, karena Taman Nasional Baluran adalah salah satu tujuan wisata yang benar-benar ingin aku datangi. Sejak Baluran menjadi topik perbincangan di kelas oleh dosen favorit semasa kuliah di UGM pada 2017 lalu, Baluran selalu masuk ke dalam list destinasi wisata impianku. Namun mau dikata apa, lagi-lagi harus menahan keinginan demi menjaga keberlangsungan Taman Nasional dan menghargai protokol yang sudah dibuat pemerintah. Sebagai gantinya, trip planner mengganti Taman Nasional Baluran dengan Kawah Wurung di hari terakhir setelah perjalanan ke Kawah Ijen selesai.

Perjalanan dimulai pada 27 Desember 2020 dari Jakarta pada pukul 2 pagi dini hari. Tentunya kami tidak langsung melakukan perjalanan ke Banyuwangi tanpa istirahat, karena walaupun ada Tol lintas jawa hingga probolinggo, tetap saja perjalanan yang ditempuh terlalu jauh dan akan sangat terasa lelah. Jadi kami memutuskan untuk berhenti satu malam di Malang, sambil menikmati beberapa kuliner khas kota Malang. 

Paginya pada 28 Desember, kami melanjutkan perjalanan ke Banyuwangi. 

Sepanjang jalan menuju Banyuwangi (Sepanjang keluar tol Probolinggo hingga Banyuwangi), aku masih sering sekali mendapati orang-orang dan warga lokal yang masih tidak menggunakan masker. Beberapa orang kulihat bahkan tetap melakukan aktifitas seperti biasa tanpa menggunakan masker atau penutup mulut dan hidung sama sekali. Sedih sekali rasanya, melihat kasus COVID-19 yang terus naik di Indonesia, namun masih belum meratanya ketertiban rakyat dan lalainya mereka pada protokol kesehatan di masa genting seperti ini. 

Kami sampai di Banyuwangi sudah lumayan sore, sekitar pukul 17.30 dan langsung Check in di salah satu hotel. Saat di perjalanan pada hari itu, salah seorang temanku yang asli Banyuwangi mengirimkan informasi berupa surat edaran dari Bupati Banyuwangi dan dinas resmi, bahwa semua tempat wisata di Banyuwangi akan tutup mulai tanggal 30 hingga 3 Januari. Sontak saja aku panik, dan langsung menghubungi trip planner yang bekerja sama denganku untuk private trip keluarga. Saat itu, mereka masih bisa bilang kepadaku, bahwa trip akan tetap berlangsung dan masih sesuai rencana. Aku sudah berkali-kali memastikan semua hal yang terkait perjalananku secara teknis sudah terurus dan terencana dengan baik. Karena kali ini adalah liburan bersama keluarga, aku tidak mau trip kali ini bersifat 'biasa saja' dan gagal. 

Keesokan paginya, kesialan satu persatu datang rasanya seperti tidak ada habisnya. Driver dan fotografer datang terlambat ke hotel kami. Malam sebelumnya, driver telah menghubungiku dan bilang “mba besok kami ready di Lobby Hotel jam 7.30 ya”. 

Namun kenyataannya, pagi itu mereka terlambat datang setelah berkali-kali aku telfon dan WhatsApp. Driver tiba pada pukul 8 lebih 10 menit di lobby hotel. Sebelum melakukan perjalanan, aku sudah menyiapkan satu botol disinfektan yang aku semprotkan ke seluruh ruang didalam mobil untuk menghindari adanya virus dan penyebaran COVID-19. Lalu aku menyerahkan surat hasil SWAB kami sekeluarga kepada driver untuk di cek. Namun saat aku meminta balik hasil negatif atau surat sehat driver dan fotografer, mereka hanya menyerahkan milik fotografer saja. Driver kami bilang dia lupa untuk membawa surat sehatnya karena ‘Buru-buru’ datang ke hotel menjemput kami. 

Rasanya tenaga sudah habis untuk marah-marah pada kacaunya hari pertama dan buruknya first impression yang mereka berikan. 

Akhirnya kami tetap melakukan perjalanan setelah diyakinkan oleh driver bahwa dia sehat. Dengan sangat berat hati, akhirnya kami tetap melakukan perjalanan walaupun rasa was-was sangat-sangat menghantui, terutama aku yang duduk didepan disebelah driver di hari pertama. 

Destinasi pertama kami adalah hutan trembesi, De Jawatan. Bersyukurnya, saat kami datang masih belum terlalu ramai walau sudah ada beberapa pengunjung. Dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan dan menggunakan masker, kami tetap bisa menikmati hutan De Jawatan dan berfoto-foto. 

Setelah itu kami melakukan perjalanan yang lumayan jauh ke Teluk Hijau, destinasi kedua kami. Jalan yang dilalui lumayan berkelok dan banyak jalan yang rusak dan belum di aspal. Jadi waktu yang kami butuhkan sangatlah panjang untuk mencapai lokasi. Belum lagi, sesampainya disana kami kehilangan sinyal karena sudah memasuki kawasan Taman Nasional Meru Betiri. Saat sampai di depan gerbang pintu masuk Taman Nasional Meru Betiri, palang pintu ditutup. Saat melihat palang pintu tidak kunjung dibuka oleh petugas, aku sudah merasakan was-was dan perasaan tidak enak. Sopir kami turun dan mengajak berbicara petugas yang berjaga. Di depan palang pintu, terdapat tulisan mengenai jadwal buka Taman Nasional Meru Betiri. Ada tulisan “Hari Libur: Senin & Selasa” yang tercetak besar. Hari itu, 29 Desember 2020 adalah hari selasa. Lalu sopir trip kami masuk ke mobil menghampiri kami dan bilang, “Mba ternyata tutup mba kita zonk” 

I honestly very very disappoint at everything at that exact moment. 

Dengan berbagai alasan, sopir kami mencoba menjelaskan kepada petugas. Namun tetap tidak berhasil, dan mau tidak mau kami harus menerima bahwa kami gagal ke Teluk Hijau. Saat itu, aku sudah marah-marah dengan berbagai uraian. Mulai dari jeleknya pelayanan, kenapa tidak memastikan jam buka yang adalah hal krusial dalam sebuah perjalanan dan kunjungan ke destinasi, kenapa trip planner tidak benar-benar memastikan soal informasi ini sebelumnya. Mereka pun memberikan alasan soal COVID-19, yang langsung aku bantah, “Ini bukan masalah ada kebijakan COVID-19 atau bukan, Tapi aturan mereka yang sudah lama berjalan mengenai hari libur di tiap minggu yaitu hari Senin dan Selasa, namun trip planner ini malah memasukkan Teluk Hijau di hari Selasa yang artinya tutup”. 

Setelah lama menunggu keputusan, akhirnya trip planner mengarahkan kita untuk langsung ke Pulau Merah. Saat itu responku hanya diam saja, karena benar-benar kesal dengan perjalanan kali ini yang BARU HARI PERTAMA TAPI UDAH DRAMA BANGET, ASTAGA!!! 

Trip planner akhirnya memberikan ganti Teluk Hijau dengan Pantai Wedi Ireng yang berdekatan dengan Pulau Merah. Akhirnya mau tidak mau kita mengikuti perubahan dadakan yang ada hari itu. Kami dibawa ke Pantai Mustika, yang awalnya kami kira adalah Pantai Wedi Ireng. Namun ternyata, kejutan hari itu tidak berhenti disitu. Pantai Wedi Ireng harus ditempuh dengan menggunakan kapal kecil untuk menyebrang karena letaknya yang di seberang pantai Mustika. Walaupun kesal, karena outfit yang hari itu kami gunakan bukanlah outfit untuk menaiki kapal dan berlayar, tapi kami tetap excited dengan kegiatan menyebrang ke Pantai Wedi Ireng hari itu. 

Setelah menghabiskan waktu bersantai dan menikmati Wedi Ireng yang terbilang buru-buru, karena hanya ada waktu satu jam, kami langsung kembali ke Pantai Mustika untuk menuju ke Pantai Pulau Merah. 

Hari pertama trip di tutup dengan menikmati minum kelapa asli dan sunset di Pantai Pulau Merah. Sebelum kembali ke hotel, kami menikmati makan malam dengan seafood di pinggir pantai Boom. Tempat yang lumayan asik untuk menikmati makan malam dengan harga yang terbilang terjangkau untuk wisatawan. Malam itu, rumor mengenai tutupnya seluruh destinasi di Banyuwangi menjelang tahun baru semakin santer terdengar. Membuatku cemas dan was-was, akan adanya cancelled trip dan cancelled plans. Malam itu, akhirnya aku terus memantau keadaan dan informasi dari trip planner. Akhirnya pada pukul 10 malam lewat, trip planner mengatakan bahwa kita harus membatalkan perjalanan di hari ketiga, semuanya, mulai dari Kawah Ijen hingga Kawah Wurung karena peraturan pemerintah Jawa Timur, Banyuwangi khususnya yang menutup semua destinasi wisata pada tanggal 31 Desember hingga 3 Januari 2021. Dengan berat hati, mau tidak mau, kami harus mengikuti peraturan tersebut dan saying goodbye pada Kawah Ijen, yang merupakan salah satu destinasi yang benar-benar aku kunjungi di Banyuwangi selain Baluran. 

Hari kedua trip, 30 Desember 2020, driver dan fotografer sudah berjanji untuk datang lebih awal karena kita akan melakukan banyak kegiatan yang lumayan memakan energi di hari kedua, yaitu snorkeling di Pulau Menjangan dan Pulau Tabuhan.  Hari kedua dan juga hari terakhir, aku berusaha semangat menyambutnya walaupun ada perasaan kecewa karena Kawah Ijen harus dibatalkan dan berubahnya itinerary perjalanan kami. Pagi itu kami langsung berangkat ke Grand Watu Dodol (GWD) sebagai meeting point untuk berlayar ke Pulau Tabuhan dan Pulau Menjangan. Namun tentunya ada saja drama dan cerita buruk dari trip planner kali ini, yaitu kenyataan bahwa kapal yang kami gunakan bukanlah speed boat seperti yang sudah dijanjikan. Belum selesai sampai disitu, trip planner yang meng-handle kami ini juga sangat-sangat tidak sopan dan tidak memiliki service soul yang baik kepada wisatawan. Memperkenalkan diri pun tidak, padahal selama ini yang berkontakan dengan kami adalah dia. Bahkan menyapa dengan sopan atau formal walau tidak menjadi guide selama perjalanan, juga tidak dilakukan. Bener-bener out of respect buat orang itu. Setelah berdebat dan marah mengenai perbedaan kapal yang diberikan, karena kapal yang kami dapatkan adalah jenis kapal lambat yang terbuat dari kayu, bukan speed boat yang dijanjikan dan diberikan fotonya kepada aku di awal perjanjian dan promosi saat aku bertanya mengenai trip ini. Sebelum naik pun, aku kembali memastikan terkait alat snorkeling yang baru sesuai dengan janji di awal. Dengan sombongnya, dia menjawab; “Bisa di cek sendiri mba”. 

SOMBONG SEKALI YA INI TRIP PLANNER PADAHAL BARU ANAK BAWANG!!!! 

Kesel banget jujur. 

Lagi-lagi trip hari kedua dan terakhir itu diawali dengan kekesalan dan kekecewaan terhadap trip planner yang sangat-sangat payah dan tidak professional. Sudah salah memberikan jadwal, Jam karet, omongan tidak sesuai realita, tidak memiliki itikad baik meminta maaf, tidak bisa berlaku sopan pula. Minus besar sejak hari pertama. Very very not recommended!

Sesampainya di kapal, sayangnya aku tidak langsung memeriksa alat snorkeling yang dijanjikan, yang katanya “masih baru, nanti mba bisa unboxing sendiri dari plastiknya”. Ternyata alat snorklingnya malah alat lama yang jelas-jelas sudah pernah digunakan orang lain, dan tidak di plastik atau terbungkus sama sekali, melainkan diletakkan di keranjang yang terbuka dan terlihat baru dicuci. 

KESAL DAN MARAH SEMAKIN MENJADI-JADI. 

Tau dibohongi seperti ini, lebih baik membeli alat snorkeling sendiri untuk keamanan dan kenyamanan kegiatan. Karena saat ini sedang pandemi COVID-19, tentu saja snorkeling sebenarnya menjadi kegiatan yang bisa berbahaya jika harus sharing alat snorkeling. 

Keluar semua kata-kata buruk di kosa kata untuk trip planner yang PALING BURUK yang pernah aku gunakan dan aku temui selama hidup. Sebagai anak pariwisata, rasanya seperti di khianati habis-habisan dengan travel trip planner seperti ini. 

Hari itu untungnya, masih bisa bahagia dengan kegiatan snorkeling di pulau-pulau cantik seperti Pulau Tabuhan dan Pulau Menjangan. Koral-koral, karang, dan ikan-ikan beserta laut hijau biru mengobati sakit hatiku kepada trip planner kurang ajar yang telah membawa banyak kesialan selama 2 hari terakhir. 


Tentunya, sebelum melakukan snorkeling aku membersihkan terlebih dahulu alat snorkelingnya dengan air tawar, menyemprotkan disinfektan dan sanitizer, lalu merendamnya dengan air bersih lagi dan mengelapnya berkali kali dengan tisu basah beralkohol. 

Long story short, bukan salah driver maupun fotografer mengenai hal-hal teknis yang terjadi dan went wrong selama trip berlangsung. Kesalahan mereka mungkin hanya terkait keterlambatan hari pertama untuk menjemput kami di hotel yang menyebabkan buruknya first impression yang kami miliki terhadap travel ini. 

Namun secara garis besar, travel dan trip planner inilah yang salah besar karena benar-benar melakukan banyak hal yang tidak sesuai. Mulai dari tidak mengecek jadwal buka, tidak melakukan cross check dengan baik terhadap masing-masing destinasi, miss communication terkait jadwal kedatangan driver dan fotografer. Lalu yang paling parah, terkait bohongnya trip planner akan fasilitas kapal yang didapatkan hingga alat snorkeling. Terakhir, etika dan attitude yang amat buruk yang berdampak pada buruknya service yang kami dapatkan. Setelah sempat menanyakan kepada nelayan lokal, perbedaan harga antara speed boat yang awalnya dijanjikan dengan kapal yang akhirnya harus kita naiki mencapai satu juta lebih. Tentunya hal ini semakin membuat kami geram, karena jelas-jelas trip planner ini ketauan mau mengambil untung lebih dengan memberikan kualitas yang downgrade dan tidak selayaknya. 

Jangan dikira semua wisatawan itu bodoh dan tidak mau atau malas research ya! 

Bisa dibilang perjalanan akhir tahun 2020 ini adalah salah satu yang paling tidak terduga. Karena sudah dinanti dengan lumayan banyak eskpektasi, namun harus banyak perubahan dan ditambah lagi pelayanan yang sangat-sangat buruk dari travel dan trip planner yang membawa kami. Dibilang bad trip, sebenarnya iya juga karena faktor-faktor dari eksternal dan memang pelayanan dari trip planner yang kami pilih, sayangnya sangat-sangat buruk. Namun tetap kami nikmati semaksimal mungkin. Dibilang bad luck, iya juga karena adanya Corona merubah trip kami dan mengurangi destinasi-destinasi pilihan kami. 


Well, at the end of this story, i just wanna say that i honestly trying to enjoy every bit of the trip, make the best out of it. Because we already paid for that shitty travel. But, bad travel agent is still BAD. So i hope this can be a lesson learned for all of us as a tourist, to be careful picking up your travel agent, your trip planner, and planning your travel safely. 


Comments