Labuan Bajo: The 'Worth It' Traveling!


Finally, Labuan Bajo!

Mau menuliskan trip kali ini, rasanya sedikit campur aduk dan banyak terharunya. Mengingat traveling ke Labuan Bajo adalah salah satu 'Most Awaited Trip of The Year' sejak tahun 2020 lalu. Bahkan bisa dibilang, keinginan untuk pergi ke Labuan Bajo sudah ada sejak tahun 2017. 

Setelah banyaknya rencana-rencana gagal, perpindahan destinasi impian, sampe gagal lagi karena COVID-19 dan penutupan pulau di Maret 2020 lalu, akhirnya jadi juga buat traveling ke Labuan Bajo ini. Rasanya? Haru, bahagia, senang, excited, dan juga ada ketakutan kalau harapan-harapan yang banyak dipupuk selama ini tidak tercapai. But well, Allah is the best planner of all isn't he?

Satu hari sebelum Sailing 

Tanggal 27 Mei 2020, akhirnya aku berangkat ke Labuan Bajo dengan rute CGK-LBJ menggunakan pesawat Citilink pukul 10.20 WIB. Landing di Bandara Internasional Komodo kurang lebih pukul 2 siang WITA. Kami langsung dijemput oleh driver yang sudah dikontak dari jauh-jauh hari. Namanya Pak Jack, beliau orang asli Nusa Tenggara Timur yang sering membawa tamu dari mana-mana di Labuan Bajo. Hari itu, Pak Jack tidak sendiri melainkan ditemani oleh Pak Andri. Kami diantar menuju penginapan kami di hari pertama, yaitu Seaesta Komodo. Salah satu hotel yang sudah lama sangat ingin aku kunjungi di Labuan Bajo. (Kayanya review soal Seaesta Komodo akan aku pisah di tulisan selanjutnya, hehe) 

Karena kebetulan waktu check in di Seaesta Komodo adalah pukul 14.00 WITA, maka kami langsung check in ke dalam kamar kami. Setelah berganti pakaian dan sedikit touch up, kami langsung jalan kembali menuju bukit sylvia dan bukit amelia. Ditemani supir, kami menikmati kota Labuan Bajo yang ternyata tidak terlalu besar, dan bisa dikelilingi dengan mobil selama satu hari saja. 

Bukit Sylvia

Setelah menikmati pemandangan dari atas bukit Sylvia dan Amelia, kami bergegas ke pemberhentian selanjutnya sambil mengisi perut karena kami belum makan sejak dari Jakarta. Kami menuju ke sebuah restoran baru bernama Sangkar Lobster yang berada di rooftop dari hotel Local Collection di Labuan Bajo. Hotel dengan gaya Santorini dan aksen putihnya, ditambah dengan undakan-undakan dari masing-masing level kamar dan bangunan. 


Local Collection, Labuan Bajo

Saya dan Thia makan sore menjelang malam di Sangkar Lobster. Kondisi saat menjelang sunset terbilang ramai, karena pemandangan dari atas restaurant memang cantik untuk melihat pemandangan laut, kapal-kapal di pelabuhan, dan matahari sore yang kembali pulang ke ufuk barat. Untuk mendapatkan tempat makan di restoran, kami harus membeli tiket makan seharga minimal Rp 100.000 di resepsionis. Kemudian kami diantar untuk ke lantai 3 menuju restoran. 

Kami menghabiskan kurang lebih Rp 600.000 dalam sekali makan sore itu. Bisa dibilang, harga makanan disini sedikit overpriced. Jus semangka yang kami pesan, satunya seharga Rp 50.000, Cumi sambal yang aku pesan seharga Rp 135.000, dan Lobster yang mereka sajikan seharga kurang lebih Rp 400.000an. Harga tersebut belum termasuk pajak dan service dari restoran. 

Namun, mengingat kami berdua sedang dalam mode liburan, perhitungan keuangan menjadi sedikit kendor karena buat apa memikirkan uang yang digunakan saat liburan? toh untuk makanan... hahahah jk (jangan dicontoh ya guys!)
Selesai menikmati sunset dan makan, kami sempat berbincang-bincang sebentar di restoran, menikmati tempat yang sudah kami bayar mahal-mahal dan mengabadikan beberapa foto. Setelah gelap, kami baru turun dan kembali ke hotel. 
Sesampainya di hotel, kami tidak langsung kembali ke kamar, namun kami menikmati malam hari dengan duduk di rooftop Seaesta Hotel. Kebetulan malam itu ada Live Music yang bermain hingga pukul 22.00 di rooftop hotel. Kami memesan minuman untuk menikmati kami chill sambil kembali mengobrol, bengong, dan menikmati hari cuti kami jauh dari keramaian Jakarta. 
Beberapa kali kami berdua menyadari, betapa waktu di Labuan Bajo sangatlah terasa lambat dan kami benar-benar menikmati waktu yang kami punya untuk istirahat dan menikmati sekitar. Beberapa pengunjung hotel menikmati malam hari dengan berenang di kolam renang yang ada di rooftop, dan banyak juga yang menikmati waktu hanya dengan sekedar duduk dan bersantai seperti kami. 

Hingga pukul 9 malam, akhirnya kami memutuskan kembali ke kamar dan mempersiapkan diri untuk perjalanan keesokan harinya. 


Hari pertama Sailing 


Boat Transfer

Hari pertama Sailing, kami di pick up oleh driver dari Seaesta menuju pelabuhan sekitar pukul 11 siang. Lalu kami harus menaiki boat kecil terlebih dahulu untuk menuju ke kapal sailing kami yang berada di tengah laut. Cuaca siang itu terbilang mendung, membuat kami sedikit berharap bahwa cuaca dan langit akan segera cerah karena ada banyak agenda cantik hari itu dan 2 hari kedepan. 

Sesampainya di kapal, kami bertemu dengan peserta Open Trip lainnya dari Waturanda. Total terdapat 11 orang termasuk aku dan Thia. Ada Mia dari Lampung yang bekerja di Jakarta, Elsya dan Yuni dari Jakarta Pusat, ada Andri dan Rizky dari Jakarta juga, Noval dari BSD, Ayu dari Kupang, dan ada 2 boatmate kami yang merupakan Warga Negara Asing yaitu Jennifer atau biasa kami panggil Jane dari Jerman dan Emily dari Canada. Senang rasanya memiliki boatmate yang seru dan ramai sehingga lelahnya perjalanan langsung hilang. 

Kegiatan pertama kami di kapal adalah makan siang sambil kapal berjalan menuju ke Pulau Kelor. Sepanjang perjalanan, yang kami lihat adalah pemandangan bukit-bukit khas Nusa Tenggara Timur dengan lautnya yang bersih. 

Hiking di Pulau Kelor terbilang tidak tinggi sebenarnya, namun jalanan yang harus dilalui masih belum terstruktur dan belum dilapisi besi, sehingga pijakan yang kami injak hanya tanah dan tekstur batu-batu yang memang secara alamiah ada disitu. Saat kami naik, terbilang masih lumayan banyak orang yang sama-sama menaiki puncak bukit di pulau kelor ini. Di area pantai, terdapat beberapa pedagang souvenir yang menjual berbagai pernak-pernik seperti gelang, kalung, pajangan, dan berbagai macam jenis souvenir lainnya. Setelah sampai di puncak pun, hanya melihat ke sekeliling pemandangan, dan memutuskan untuk turun lagi karena spot foto yang bagus justru berada di dermaganya dan di pemberhentian pertama sebelum puncak. 

Kelor Island

Setelah menaiki bukit di Pulau Kelor ini, kami beranjak kembali ke kapal menggunakan boat kecil. Kami bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan ke destinasi selanjutnya bernama Manjarite atau pantai Manjarite. 

Manjarite terkenal dengan terumbu dibawah lautnya dan kecantikan bawah lautnya dengan air biru kehijauan yang masih sangat bersih. Untuk penggemar snorkling dan berenang di laut seperti saya, tentunya kegiatan ini sangat menyenangkan. Karena sudah menjelang sore, air laut di Manjarite terbilang dingin. Beberapa dari kami memilih untuk menikmati Manjarite dari pinggir dermaga dibandingkan berenang di laut. Beberapa karang sudah terlihat pucat warnanya karena terkena abrasi, namun tetap banyak karang cantik yang berwarna-warni dibawah laut. 

Manjarite Underwater View
Setelah menghabiskan waktu kurang lebih 30 menit di air, akhirnya kami naik kembali ke kapal dikarenakan udara mulai dingin dan arus dibawah laut mulai sedikit terasa. 

Memang baiknya, berenang di Manjarite di waktu yang lebih awal sepertinya akan lebih hangat airnya dan tidak terlalu gelap dibawah laut. Setelah berenang, kami beranjak bersih-bersih, mandi, dan melihat sunset di Pulau Kalong. 

Sayang sekali sunset sore itu tidak terlalu cerah karena sedikit gloomy dengan awan-awan tebal di langit. Namun itu tidak mengurangi keceriaan kami karena pemandangan yang ada di setiap sudut Labuan Bajo sangatlah indah. 

Malam itu kami makan malam di deck lantai 2, sedangkan kapal melaju lumayan kencang sehingga angin berhembus menusuk kulit lumayan kencang. 

Selesai makan, beberapa dari kami menikmati langit malam Labuan Bajo dengan bersantai di deck. Kumpulan bintang-bintang yang ada di langit rasanya sulit sekali untuk diabadikan dengan kamera hp maupun dengan kamera profesional. Memang terkadang, beberapa momen cukup hanya bisa diabadikan dengan ingatan dan mata kepala, bukan dengan teknologi secanggih apapun. Kumpulan bintang yang membentuk milky way ini salah satunya. 

Setelah mulai malam, badan saya mulai terasa limbung dan tidak enak. Angin laut malam yang berhembus kencang, ditambah perut yang baru terisi makanan, dan kapal yang bergerak dengan kencang sempat membuat saya ingin muntah. Namun bersyukur, thia langsung membantu saya dengan memijat pundak dan punggung saya dengan conterpain dan minyak aroma terapi. Saya mencoba merebahkan diri saya ke kasur yang tetap sangat terasa bergoyang kencang didalam kapal. Akhirnya malam itu saya bisa baik baik aja, dan baru dapat tertidur saat kapal telah sampai di Pulau Padar dan bersandar. 

Hari Kedua Sailing 

Pagi itu kami bangun pagi-pagi pukul 04.00 karena sudah diberikan mandat oleh guide untuk mulai hiking dan tracking ke atas puncak Padar pada pukul 05.00 pagi. Kami mulai naik ke Puncak Padar tepat pukul 05.00 dengan keadaan sekeliling masih sangat gelap, tanpa ada lampu kecuali pada pos pertama di gate awal sebelum menanjak. 
Lampu-lampu yang menyala hingga puncak adalah lampu dari HP dan flashlight HP dari pengunjung yang sudah terlebih dahulu naik. 

Berbeda dengan Kelor yang pijakannya masih berbentuk tanah, di Padar pijakan kaki kami lebih stabil dengan bantuan kayu-kayu dan batuan yang sudah dibentuk, sehingga lebih membuat kami merasa aman. 

Sebelum naik, kami dibawa guide untuk melapor kepada petugas terlebih dahulu untuk pendataan, dan diberikan briefing singkat mengenai apa yang boleh dilakukan, dan hal-hal yang harus dihindari dna tidak boleh dilakukan selama berada di Pulau Padar ini. 
Konon, katanya terdapat lebih dari 800 anak tangga yang kami naiki saat mau mencapai puncak padar. Dibandingkan beberapa teman saya yang sudah terlihat sangat lelah dan menyerah pada pos dibawah puncak paling atas, saya terbilang lebih bisa menyikapi hiking ini dan tidak merasa terlalu lelah. Padahal kami semua belum ada yang sarapan sama sekali. Berbekal makan roti atau cemilan sedikit pun tidak. 
Saat sudah mulai berada di setengah perjalanan, pemandangan Padar yang terkenal karena gugusan 3 pantai yang biru indah bercampur dengan bukit-bukitnya mulai terlihat. Ditambah kapal-kapal yang berlabuh sejak semalam bagaikan lampu-lampu ditengah laut. Indah. 

Setelah hiking menuju puncak Padar hampir satu jam (ditambah istirahat dan duduk juga minum ya guys hahaha), akhirnya kami sampai juga di puncak Padar. Keadaan saat itu sudah terlihat matahari pagi yang mulai bersinar di Timur. 
Banyak orang sudah mulai mengantri untuk berfoto di spot-spot foto dengan hangatnya mentari pagi yang menyinari Pulau Padar. Kami memutuskan untuk menikmati suasana pagi hari tersebut sambil beristirahat karena akhirnya bisa juga sampai di Puncak bukit tersebut. Setelah 800an anak tangga kami lewati, kami akhirnya melihat pemandangan Pulau Padar yang sangat cantik. Biasanya saya membayangkan berada disana dengan melihat foto-foto yang berseliweran di Instagram. Namun kini saya berada disana, merasakan sepoi angin dan hangatnya mentari pagi menyapa kulit saya. Perjalanan menaiki undakan-undakan tangga tersebut terasa sangat worth it dengan segala lelah dan bangun paginya, belum sarapan... segalanya terasa sangat pas dan menyenangkan. Menaiki puncak Padar memang sebuah kewajiban saat kita ke Labuan Bajo. Keindahannya tiada tara dan unik, karena tidak ada dimanapun itu. 

Padar Island

Hari kedua
sailing ini memang terbilang adalah hari terpenuh karena seharian full kami banyak berpindah dan melakukan banyak kegiatan. Walaupun lelah, namun kami masih semangat menjalani kegiatan selanjutnya. 
Setelah kembali ke Kapal, kami bersantai di Kapal dengan sajian Pisang Goreng yang dibuat oleh crew kapal untuk kami sambil menunggu makan pagi menjelang siang (bruch). Kami menuju ke Long Beach atau yang biasa dikenal dengan Pink Beach. 

Banyak wisatawan yang belum benar-benar mengetahui mengapa pasir di Long Beach ini bisa berwarna merah dan terlihat pink. Hal ini terjadi karena hewan mikroskopis yang disebut Foraminifera, yang ternyata menghasilkan pigmen warna merah pada terumbu karang di laut. Karena itulah pasir pantai di sekitar karang-karang ini berwarna pink. Perlu diingat, bahwa membawa pasir, terumbu karang, atau apapun dari lokasi wisata alam manapun di Labuan Bajo tidak di perbolehkan karena telah diatur dalam UU Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. 

 

Pink Beach, Komodo

Di Pink Beach, kami semua bermain air dan mengambil foto menggunakan Drone sebagai dokumentasi. Setelah puas bermain di Pink Beach dibawah teriknya matahari, kami kembali ke Kapal untuk makan siang dan bersiap ke Pulau Komodo dimana terdapat pintu gerbang utama dari Taman Nasional Komodo. Taman Nasional Komodo sebenarnya terdiri dari Pulau Komodo itu sendiri, Pulau Padar, dan Pulau Rinca serta beberapa pulau kecil lainnya. Taman Nasional ini didirikan pada tahun 1980 untuk melindungi Komodo dan habitatnya. Untuk memasuki kawasan Pulau Komodo ini, kami harus bersama Komodo Ranger atau istilahnya, pawang komodo yang menemani dan menjaga rombongan selama tour di area ini. Kami bertemu Pak Rahman yang menjadi Komodo Ranger kami dengan membawa tongkat kayu Walikukun nya untuk menghalau Komodo jika mereka mendekat. Setelah berkeliling sebentar, kami mendapati 2 Komodo di area yang sedang berdiam diri dan mulai di datangi turis. 

Pulau Komodo bersama ranger

Jujur saja, mendatangi pulau ini dan bertemu Komodo sedikit banyak mengubah cara pandang saya terhadap beberapa hal mengenai pariwisata di Taman Nasional. Komodo yang seharusnya menjadi hewan yang dilindungi, banyak dilihat oleh manusia yang berdatangan tiap harinya puluhan hingga ratusan bahkan ribuan. Betapapun seramnya Komodo jika diperhatikan secara lebih dekat dan lebih detail dengan sisiknya yang tebal, saya tetap merasa iba melihat bagaimana Komodo diperlakukan di habitatnya sendiri.  
Memang, warga Kepulauan Komodo dan sekitarnya sudah hidup berdampingan sejak lama dengan Komodo, namun melihat Komodo yang berjalan-jalan sendiri lalu diikuti oleh rombongan turis, di tahan dengan tongkat kayu, dijadikan objek foto berkali-kali, rasanya iba dan kasihan. Karena seharusnya dia berada di alam liar dengan bebas tanpa harus diganggu. 
Pak Rahman juga bilang, Komodo sebenarnya ada banyak dan tersebar di Pulau Padar, Pulau Rinca, dan Pulau Komodo ini. Namun yang menjadikan mereka dianggap 'Langka' dan jumlahnya terbatas dikarenakan mereka adalah hewan kanibal yang bisa memakan sesamanya. Justru hal inilah yang mengurangi populasi Komodo. 

 

Komodo
Setelah berkeliling Pulau Komodo, kami menyempatkan sebentar meminum es kelapa sambil menunggu boat datang. Terdapat beberapa kios oleh-oleh yang menjual kaos, aksesoris, dan berbagai hiasan buatan tangan warga lokal. Sayangnya, saya tidak membawa banyak uang cash saat itu sehingga tidak bisa membeli banyak barang. 

Tips: Kalau sailing, memang baiknya membawa uang cash untuk jajan, beli es kelapa, membeli cendera mata, atau hal lainnya karena mayoritas penjual hanya menerima cash. 

Destinasi selanjutnya yang kami datangi adalah Taka Makassar. Taka Makassar adalah sebuah gundukan pasir di tengah laut dengan air laut yang jernih, dangkal, dan berwarna hijau turqoise. Pantainya yang indah benar-benar membuat kami terlena dan langsung berenang ke laut. Menikmati airnya yang hangat terkena matahari siang karena waktu itu sekitar pukul 2 siang. Walaupun panasnya mentari menyengat kami, kami seperti tidak peduli dan tetap berenang, menikmati badan kami yang setengah terendam di air laut. Saya menyempatkan berenang lumayan jauh dan ternyata airnya benar-benar segar dan menyenangkan untuk berenang.


Taka Makassar

Setelah berenang di Taka Makassar, kami kembali ke Kapal untuk beristirahat sejenak sambil menuju ke Manta Point. Manta Point adalah lokasi untuk mencari Manta Rays atau ikan pari yang terkenal di Labuan Bajo. Saat itu sudah hampir jam 4 sore, sehingga angin sore sudah mulai dingin. Kami kembali menggunakan boat untuk mencari lokasi Manta. 

Pencarian Manta ini terbilang susah karena kami harus berkali kali terjun ke laut dan naik kembali ke Boat. Tidak sekali berenang langsung mendapatkan pemandangan Manta cantik yang sedang berenang.  Lumayan menghabiskan tenaga kami yang sudah seharian berenang dan menaiki padar. Tapi kami tetap saja dengan senang hati berenang dan mencari Manta. Cahaya sore hari dengan kegelapan dalam laut membuat kami semakin susah melihat manta dengan jelas karena pantulan cahayanya ke googles yang kami gunakan. Setelah hari semakin sore dan menjelang gelap,  kami diminta kembali ke Kapal karena takut arus laut semakin kencang. 

Manta Rays (29/5) 

Setelah berenang bersama Manta, kami bersiap-siap untuk makan malam di Malam terakhir pada perjalanan Sailing 3 Hari 2 Malam ini. Malam itu kami bermain Kartu Monopoli yang dibawa oleh salah satu teman kami dari Canada yaitu Emily. Emily dan Jane mengajari kami bermain Monopoli hingga malam hari sambil menunggu makan malam ready. Kami sangat menikmati hari itu dengan beristirahat cukup malamnya. 

Hari Terakhir Sailing 

Pagi itu kami disambut dengan sunrise di Pulau Kanawa. Pulau cantik dengan air jernihnya yang dijuluki sebagai Aquarium Raksasa karena keindahan bawah lautnya. Agenda hari itu, kami menikmati pulau Kanawa (Darat dan Lautnya). Namun melihat lautnya yang jernih, saya hanya menghabiskan waktu sejenak di daratannya dan tidak terlalu explore pantainya karena sudah terlalu tertarik untuk menyeburkan diri ke Luatnya yang jernih dan indah.  

 Setelah berganti baju renang lagi, kami langsung berenang di Kanawa. Memuaskan diri berenang di hari terakhir, sambil mengambil sebanyak-banyaknya foto dokumentasi bawah laut bersama ikan-ikan yang lewat dan terumbu karang. Kami menemukan banyak bintang laut dengan berbagai warna seperti biru dan merah dibawah laut. Ikan-ikan cantik berseliweran di sekitar kami membuat kami semua seakan lupa waktu dan berenang hingga jemari ini keriput. Menjelang siang, kami harus kembali ke Kapal karena harus kembali ke dermaga utama di Labuan Bajo pukul 11 siang. 

Sebelum mandi dan bersiap-siap terakhir, saya memutuskan untuk melompat dari atas kapal ke laut bersama salah satu boatmates yang paling seru dan nekat yaitu Mia. Setelah memberanikan diri, akhirnya saya berani juga melakukan lompat bebas ke laut bersama Mia dan salah satu crew kapal yang harus menemani saya saking takutnya melompat, hahahah. 

Perjalanan indah ini mau tidak mau memang harus berakhir juga di hari ketiga. Rasanya sedih harus berpisah dari teman-teman boatmates yang saya temui selama 3 hari terakhir ini. Seru sekali dan sangat bersyukur karena Open trip kali ini saya ditemukan dengan orang-orang yang satu frekuensi dan benar-benar membuat perjalanan ini sangat berkesan. Tentunya perjalanan ini juga tidak akan menjadi spesial tanpa bantuan Tour Operator kami, Waturanda, Fotografer kami Ka Oji, Guide kami Pak Robert, dan seluruh awak kapal yang sudah memasakkan makanan untuk kami, membantu kami jika air mati, menemani melompat dari kapal, dan menyediakan segala kebutuhan kami diatas kapal selama sailing. 

 Semoga, siapapun yang membaca tulisan ini, akan merasakan segala excitement, bahagia, dan perasaan positif lainnya yang saya rasakan selama berada di Labuan Bajo. Dan tentunya, semoga segera bisa merasakan langsung keindahan Bajo. See you again on the next journey, Bajo!


Stay Safe & Be Happy

Yours Truly,


Lala.

Comments